Pembatasan kegiatan di masyarakat membuat kegiatan perekonomian semakin seret, dan ulah penipu memanfaatkan situasi ini, membuat korban panik dan menuruti kemauan si penipu untuk mengirim sejumlah uang.
Pagi itu sekitar jam 10.00 tiba tiba HP pak Wahyudi berbunyi ada telepon dari salah satu operator GSM.
” Bapak punya anak yang kuliyah di kota Malang, benar ? ” begitu percakapan awal dengan nada tegas, khas gaya aparat.
Ketika dijawab benar, maka si penelepon ( penipu ) dengan nada tegas mengatakan bahwa anaknya ditangkap dan kedapatan membawa narkoba, karena si penipu ini mengatakan berada agak jauh dari rekan kerjanya, maka anak yang kedapatan membawa narkoba ini bisa dilepas, dengan ketentuan ” diam dan damai “, dan tunggu intruksi lebih lanjut.
Wahyudi yang memang mempunyai anak , dan lagi kuliyah dikota Malang seketika gemetar, dan tidak bisa berfikir dengan jernih. 5 menit kemudian telepon berbunyi dan inti dari pembicaraan per telepon ini adalah besaran uang damai, disertai pesan tidak usah banyak bercerita kepada teman atau keluarga, karena ber akibat kasus ini akan diproses dan tambah berat.
Wahyudi yang merasa tidak ingin anaknya berurusan dengan polisi karena narkoba, segera bergegas menuju ke salah satu bank yang memang tempatnya menyimpan uang.
Dipelataran parkir bank, Wahyudi bertemu dengan sahabatnya, demi didapati pucat , gemetar dan tergesa, maka Wahyudi diajak mojok dan ngobrol dengan tenang.
Si korban ini pada mulanya enggan bercerita, namun berkat pendekatan dan coba kontak nomer anak lewat ponsel sahabatnya ini, dan si anak yang di Malang bercerita dengan lancar lagi di kost dan tidak ber urusan dengan pihak berwajib.
Penulis menerima telepon modus seolah ada anggota keluarga yang tertangkap kedapatan membawa narkoba ini, ada 10 penelepon, bahkan 1 penelepon sampai bertengkar dengan istrinya, dan selanjutnya menggoda si penipu dengan menerima telepon GSM dari si penipu itu hampir 2 jam, si penipu marah marah karena kehabisan pulsa. (bersambung)











