SURABAYA – Mengacu pada kasus Shalfa Afrilla atlet senam yang dipulangkan Pelatnas Gresik harus dijadikan pembelajaran masa depan olahraga Indonesia. Untuk itu, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur harus membuat regulasi terkait regulasi rekrutmen atlet.
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Budiono menegaskan, seharusnya pelatnas tidak boleh menjadikan soal virginitas atlet sebagai tolak ukur untuk dapat menjadi binaannya. Melainkan tolak ukurnya harus berpatokan prestasi atlet.
Virginitas atlet sangat menyangkut privat seseorang sehingga harus dilindungi, dan tidak diumbar kemana-mana. “Segala sesuatu yang Menyangkut hal pribadi tidak boleh dikaitan dengan prestasi,” ujar Budiono, di Surabaya, Kamis ( 5/12).
Politisi asal Partai Gerindra itu mengaku dalam dengar pendapat dengan KONI Jatim beberapa waktu sebelumnya, terungkap bahwa Pelatnas selalu tak koordinasi dalam merekrut atlet dari daerah. Padahal KONI telah membinanya sejak dini hingga menjadi atlet premium.
Kedepannya, DPRD mendorong KONI agar segera membuat regulasi untuk mengatur dan memberi payung hukum terkait rekrutmen atlet daerah oleh Pelatnas. Dengan begitu, Pelatnas tidak asal mengambil atlet tanpa koordinasi dengan KONI.
“KONI harus bersikap tegas kepada pelatih prestasi2 yang ada di jatim harus melalui KONI,” tuturnya.
Selain koordinasi, dalam regulasi itu nantinya KONI tetap harus dilibatkan dalam pelatnas untuk turut mengawasi atlet. Dengan begitu, KONI bisa bertanggung jawab terhadap atlet yang dibina pelatnas jika nantinya ada masalah.
“Meskipun atlet dibina oleh pelatnas, KONI harus dilibatkan jadi jangan sampai KONI ditanya tidak tahu. Seolah-olah langsung dicomot oleh pelatih,” paparnya.
Budiono menilai sangat wajar, jika KONI mempunyai regulasi yang kuat dalam hal rekrutmen atlet. Mengingat KONI selaku pengguna anggaran ketika melatih atlet saat mengawali kariernya. “Kita segera ajak KONI koordinasi lagi,” paparnya.( rofik)











