BIDIK NEWS | Kota Batu–Persoalan kemacetan lalu lintas, terutama saat masa liburan, kerap dirasakan masyarakat Kota Batu maupun wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu. Berkaca pada kemacetan libur Natal dan Tahun 2019, Polres Batu menggelar diskusi ngobrol pintar (ngopi) ‘Milineal Road Safety Festival’ membahas persoalan kemacetan serta untuk mencari solusi mengurai keruwetan lalu lintas. Diskusi tersebut turut melibatkan pihak Pemkot Batu dan akademisi.
Analisis dan evaluasi lalu lintas saat libur Natal dan Tahun Baru 2019 beberapa pekan lalu turut dipaparkan Kasat Lantas Polres Batu, AKP Christopher Adhikara Lebang. Ia mengatakan kepadatan arus lalu lintas terjadi saat malam Natal (24/12/2018). Sebaliknya, pada saat hari H libur Natal 2018 (25/12/18), lalu lintas sangat lengang karena arus kendaraan terpecah.
Sejumlah ruas-ruas jalan alternatif dimanfaatkan untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Namun tingginya volume kendaraan yang ke Kota Batu saat libur Natal dan Tahun Baru 2019 menimbulkan simpul kemacetan di sejumlah titik, diantaranya Simpang tiga Bendo, Jatim Park 3, Jl. Trunojoyo, Lippo Plaza, Simpang Tiga Pendem, Songgoriti dan Jl Bromo-Semeru.
“Personil kami telah melakukan pengaturan lalu lintas namun efeknya dirasakan masih belum maksimal. Oleh karena itu, Polres Batu bersama Pemkot Batu serta akademisi duduk bersama mencari solusi kemacetan lalu lintas terutama saat masa liburan,” papar AKP Christopher Adhikara Lebang (15/1).
Diharapkan solusi mengurai kemacetan dapat menepis perspektif masyarakat maupun wisatawan dengan labelling Kota Batu, kota macet. Tingginya volume kendaraan berkontribusi besar penyebab kemacetan lalu lintas. Ditambahkan lagi banyak-banyak titik-titik persimpangan yang menjadi simpul-simpul kemacetan.
Christoper menawarkan beberapa solusi mengurai kemacetan lalu lintas dengan melakukan perbaikan dan pelebaran ruas jalan utama serta ruas jalan alternatif. Selain itu diberlakukan jam operasional bagi kendaraan berat untuk mengurangi dampak kemacetan pada saat arus padat.
“Kami sarankan pengoptimalan jalan altenatif baik melalui pelebaran jalan dan memanfaatkan jalan-jalan yang masih belum bisa diakses. Selanjutnya akan ada evaluasi dari Pemkot Batu untuk mengurai persolan kemacetan di Kota Batu,” ujar mantan Paur SIM Dit lantas Polda Jatim itu.
Menanggapi hal itu, Sekda Kota Batu, Zadim Effisiensi mengatakan perlu sinergi semua lini mengurai kemacetan lalu lintas. Ia menambahkan, Pemkot Batu perlu meninjau ke lapangan terlebih dahulu dan melakukan kajian untuk melakukan pelebaran atau perbaikan jalan.
Zadim menyebutkan item pelebaran dan perbaikan jalan masuk dalam anggaran infrastruktur yang dibebankan sebesar 25 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) Kota Batu yang totalnya Rp. 800 miliar.
Menurutnya perlu peran serta pemerintah desa yang mendapat kucuran Dana Desa untuk dimanfaatkan perbaikan jalan-jalan desa sebagai ruas-ruas jalan alternatif.
“Pemeritah desa perlu berpartisipasi untuk memperbaiki infrastruktur jalan dengan memanfaatkan Dana Desa,” ujarnya.
Sementara itu, pakar transportasi Universitas Brawijaya, Hendi Prabowo mengatakan simpul-simpul kemacetan yang ada di sejumlah ruas-ruas jalan disebabkan terbatasnya ketersediaan kantomg parkir. Ditambah lagi banyak simpang jalan di Kota Batu yang semakin memperparah kemacetan.
“Perlu manajemen lalu lintas memecahkan keruwetan lalu lintas yang disebabkan simpang-simpang jalan. Perlu kajian pula pada jalur-jalur arteri yang seharusnya bebas hambatan samping,” pungkas Hendi. (Did)









