SURABAYA l bidik.news – Sebanyak 256 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Jawa Timur masih dipasung oleh keluarga mereka.
Kondisi itu membuat program Jatim Bebas Pasung yang dicanangkan sejak beberapa tahun lalu menjadi tertunda.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jatim Restu Novi Widiani melalui Sekretaris Dinsos Jatim Yusmanu mengatakan, banyaknya warga yang dipasung disebabkan karena, termasuk masyarakat keluarga ODGJ, seringkali memiliki pengetahuan yang terbatas tentang gangguan jiwa, penyebabnya, dan cara penanganannya.
“Jadi kadang penderita ODGJ yang sudah sembuh besok bebas dan harus dipasung ulang karena penyakitnya kambuh lagi,” katanya pada Kamis (22/8/2024).
Yusmanu mengatakan, banyak masyarakat dan keluarga yang masih memiliki stigma negatif terhadap gangguan jiwa. Mereka seringkali menganggap gangguan jiwa sebagai kutukan, kelemahan, atau tanda kegilaan.
Ketakutan akan perilaku yang tidak terduga dari ODGJ seringkali mendorong keluarga untuk mengambil tindakan ekstrem seperti memasung.
“Stigma yang ada di masyarakat dan keluarga menentukan dia sembuh atau tidak. Kalau pada saat kembali masyatakat dikucilkan dan stres akhirnya kambuh. Kalau tida diterima lagi. Jadi di repasung lagi banyak. Misalkan dari RSJ Lawang sembuh dan tidak diterima akhirnya kambuh,” katanya.
Ditambahkan Yusmanu, faktor lain yang menjadi penyebab adanya repasung atau pemasungan ulang adalah karena penderita yang sudah sembuh tidak mendapatkan penanganan medis yang baik.
Pasalnya, ODGJ yang sudah sembuh harus tetap rutin mengonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan oleh dokter.
Obat-obatan yang tepat dapat membantu mengontrol gejala gangguan jiwa seperti halusinasi, delusi, depresi, kecemasan, dan gangguan pikiran lainnya.
Dengan mengonsumsi obat secara teratur, risiko terjadinya kekambuhan atau munculnya kembali gejala dapat diminimalkan.
“Kalau tidak minum obat secara teratur maka akan kambuh,” tambahnnya.
Yusmanu menambahkan, untuk menekan jumlah penderita ODGJ, ia bermaksud melakukan edukasi dan kesadaran terhadap masyarakat agar mereka tidak dipersepsikan negatif.
Dengan edukasi yang benar, Yusmanu yakin dapat memberikan informasi yang benar tentang gangguan jiwa, menghilangkan mitos, dan mengubah persepsi negatif.
“Kami melaksanakan kegiatan yang namanya cenderung stigma terhadap ODGJ. Karena yang jadi masalah di keluarga terhadap orang ODGJ luar biasa yang katanya tidak bisa sembuh dan sebagainya. Kemarin kami mengadakan sepak bola dengan mantan penderita ODGJ dan sudah berbaur,” katanya.
Selain melakukan edukasi, Dinsos Jatim juga melakukan pelayanan Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Laras (UPT RSBL) Pasuruan, Kediri dan Sidoarjo. Diperkirakan, dengan rehabilitasi tersebut, maka penderita ODGJ bisa sembuh dan kembali ke masyarakat. ( Rofik )











