SURABAYA – Pada saat rakyat ketakutan dan prihatin karena pandemi virus COVID -19 yang berdampak terhadap seluruh sendi -sendi kehidupan masyarakat . Ironisnya dengan kondisi seperti ini, malah rakyat disuguhkan tontonan gratis adegan “Marah-Marah” dari para pemimpinnya , bukan malah disuguhkan kinerja yangbaik . Hal ini mulai dari presiden hingga walikota.
Tontonan seperti ini menimbulkan berbagai asumsi dimasyarakat dan dianggap bukan sebagai cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Seperti diketahui Presiden Joko Widodo alias Jokowi dalam sidang kabinet paripurna yang diunggah melalui video menampilkan adegan kemarahannya dihadapan kabinetnya.
Dalam kemarahannya, Jokowi menuding, bahwa jajaran kabinetnya tidak memiliki perasaan atau Sance of Crisis dalam menanggulangi Pandemi ini, klimaksnya Jokowi mengancam akan membubarkan lembaga-lembaga negara serta akan me-reshuffle kabinetnya.
Sebelumnya hal yang sama, juga dilakukan Walikota Surabaya, Risma Triharini yang juga mempertontonkan adegan kemarahannya dengan cara “ngamuk -ngamuk” dihadapan publik. Hanya gara-gara jadwal penggunaan bantuan mobil PCR dari BNPB Pusat.
Anehnya tidak berselang lama, Risma menampilkan adegan yang dianggap sebahagian masyarakat “Nyeleneh” dihadapan pengurus IDI ( Ikatan Dokter Indonesia) Surabaya dan Jatim, dengan bersujud sambil menangis dihadapan sejumlah dokter. Risma mengeluh masalah penanganan Pandemi ini.
Menanggapi tontonan kemarahan para pemimpin, I Wayan Titip Sulaksana SH, pegiat anti korupsi dan pakar hukum dari Universitas Airlangga Surabaya mengatakan, ” Rakyat seharusnya juga bisa marah melihat kondisi seperti ini,” ujarnya .
Hal ini, masih kata Wayan dikarenakan, ” Banyaknya PHK , karena ini menjadi beban hidup masyarakat menjadi semakin sulit ,” tandasnya.











