GRESIK I BIDIK.NEWS – Beban hidup masyarakat berpenghasilan sedang dan rendah sangat terpukul dengan kenaikan harga BBM, pengalihan subsidi BBM lewat BLT juga kurang menyelelesaikan masalah, demikian dikatakan Wakil Rektor Universitas Gresik (Ungres), Dr Suyanto SH MH, Senin (19/9).
“Secara pribadi saya tidak setuju dengan kebijakan negara menaikkan harga BBM yang di subsidi, pasalnya penataan dan pemberian bantuan tidak menyertakan pihak desa yang tahu akan kondisi kehidupan lingkungan sekitarnya, selama ini BLT, dan beberapa bansos hanya menggunakan data lama dan datang dari atas,” jelas Yanto panggilan akrabnya.
Ukuran dari statistik selama ini yang menerima bansos adalah rumah belum dari tembok, lantai belum di plester, belum ada jamban, belum punya saluran listrik atau sudah terpasang daya 450 VA, tidak punya motor.
Dilingkungan sekitar kita, banyak warga yang merantau ke luar propinsi atau luar negeri, setelah mendapat uang dibuat membangun rumah kategori sehat, dan hanya dibuat tinggal orang tuanya yang sudah mulai renta, dan tidak punya usaha baik sawah, tambak atau perdagangan.
“Begitu si pekerja ini meninggal dan dan tidak ada lagi yang menghasilkan uang, sementara penerima bansos masih menggunakan data yang lama dan belum di up date, yang jenis begini di pedesaan cukup banyak, dan tidak mendapat bansos karena parameter adalah bentuk fisik rumah,” terang Yanto.
Guru madrasah yang lembaganya masih kecil, pekerja non formal, pekerja swasta yang pendapatannya dibawah UMK, jumlahnya ribuan dan lebih banyak dari pada jumlah penerima BLT dan bansos lain yang temporer.
“Kalau penyaluran bansos dan bantuan lain dengan melibatkan perangkat di masing masing desa, termasuk mulai pendataan, tentu penyebaran bantuan ini tepat sasaran, dan yang lebih utama adalah harga kebutuhan bahan pokok hidup sehari hari stabil serta tidak melambung, tentu masyarakat akan tenang dan ayem,” tegasnya ( ali)











