Mental untuk mengeruk keuntungan dengan cara menipu, baik seolah olah mengajak bisnis, berbagi uang temuan, seolah dititipi uang milyaran, bahkan persoalan ibadah umroh juga dijadikan ladang penipuan.
Pagi saat jam kerja, di pelataran parkir suatu kantor pemerintahan, tukang parkir yang sudah 10 tahun berjaga dilokasi tersebut, menyapa seseorang yang cukup dikenal karena sering parkir di lokasi tersebut, otomatis dengan bahasa Suroboyoan.
” Pak Haji…….., sampeyan gak kepingin budal umroh maneh ? ( Pak Haji…, anda kepingin berangkat Umroh lagi ?) begitu percakapan seusai basa basi dan sambil merokok, khas percakapan teman dan sahabat di ruang terbuka.
Karena pak haji ini, selain pengurus masjid, pegiat sosial keagamaan, begitu diajak ngobrol soal umroh, langsung tertarik, dan pembicaraan semakin serius.
” Aku punya jatah 5 kursi untuk umroh VIP dan masih mendapat uang saku Rp 50 juta, karena sampeyan sudah tak anggap saudaraku, maka sampeyan tak kasih 1 tiket, hanya butuh sampeyan yakin dan percaya, ini dari orang kaya di Saudi yang mempercayakan kepada salah satu ustadz, dan saya adalah santrinya” cerita si tukang parkir panjang lebar.
Sebagai tanda jadi dan sepakat , si tukang parkir meminta copy KTP untuk pendataan dan pengurusan, dan sumbangan untuk pembangunan jamar mandi ponpes milik si ustadz.
Pak haji yang satu ini, justru ber baik sangka dan memberi uang yang diminta di tukang parkir, tanpa tanda terima.
Hanya bergeser 100 meter, pak haji ini diajak mgobrol dengan salah satu PNS di lingkup kantor tersebut, dan dikatakan bahwa dirinya tahun 2014 lalu juga di bilang sama tukang parkir akan di beri jatah umroh VIP gratis dan sudah memberi sumbangan.
” Perkiraan ya sekitar 50 orang yang sudah setor uang katanya untuk sumbangan pembangunan ponpes dan akan mendapat umroh VIP serta uang saku 50 juta, tapi hinga kini belum di berangkatkan,” papar si PNS yang enggan identitasnya disebut. ( ali/ bersambung )










