Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.*
*Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera
Sya’ban terdiri dari kata “sya’aba” yang berarti berpisah secara bahasa, ecara istilah dapat dipahami dalam konteks posisi bulan sya’ban itu sendiri, yaitu tepat setelah Rajab. Rajab sebagai salah satu bulan harom diseru untuk memuliakannya di antaranya dengan tidak melakukan perang, maka tepat setelah Rajab lewat, dikisahkan bahwa masyarakat jahiliyyah berpencar atau saling berpisah satu sama lain untuk kembali berperang yang pada sebelumnya terlarang.
Sebenarnya urgensi kajian Sya’ban terutama adalah pada pertimbangan amalan di dalamnya yang membedakan dengan bulan-bulan Hijriyyah lainnya. Sya’ban identik dengan suasana menjelang Ramadhan bagi seluruh umat Islam, maka pada bulan ini diseru untuk mempersiapkan diri. Bahkan Rasul secara majazy mencontohkannya dengan menyingsingkan lengan baju serta mengencangkan ikat pinggang dalam rangka sebagai simbol kesigapan menyambut Ramadhan.
Selain itu, Rasul hampir sebulan berpuasa di bulan Sya’ban. Meski tidak sampai sebulan penuh sebagaimana bulan lainnya selain Ramadhan, kegemaran puasa rasul nampak di bulan ini. Maka demikian kiranya alasan mengapa ada yang menyebutkan bahwa, jika bulan Harom yaitu Dzhul Qo’idah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rajab disebut sebagai bulan Allah, dan Sya’ban sebagai bulan Rasulullah, ada pun Ramadhan adalah bulan umat Islam seluruhnya.
Maka tidak salah kiranya pada bulan ini umat Islam untuk mempersiapkan sedemikian hingga dalam rangka menyambut Ramadhan. Sebagai pertimbangan pendukung, persiapan dalam pemaksimalan Ramadhan bisa mencakup berbagai kebutuhan dasar, seperti kesehatan fisik, kesiapan ekonomi dan berbagai kebutuhan material lainnya. Lebih dari itu semua, kesiapan mental dalam rangka kelapangan dada dan jiwa dalam pemaksimalannya berserta berbagai amalan untuk meraih kemuliaan dan keutamaan Ramadhan.
Selain itu, di bulan Sya’ban dan juga dalam rangka menyambut bulan tersebut, yang sebenarnya dapat dimulai sejak Rajab mengamalkan do’a sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul, berikut lafaz dan artinya sekaligus penutup ulasan pada artikel kali ini yang diharapkan diberikan kemanfaatan atas dan keberkahan dari Allah: “Allahumma bariklanaa fi sya’bana wa ballighnaa Ramadhan.!” Artinya: “ya Allah berkahilah kami di bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami di Ramadhan.!”











