SAMPANG — Puluhan nelayan Desa Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, tak bisa melaut, sejak sepekan ini. Pasalnya, para nelayan itu kesulitan bahan bakar solar bersudsidi agar menjalankan perahunya. Padahal, melaut itu pekerjaan sehari hari sebagian besar warga Desa Tamberu Timur.
Para nelayan itu sudah berusaha mencari di daerah Ketapang, atau Sotaber. Namun sering tidak dilayani mendapatkan solar bersubsidi. POM mini AKR yang ada di desa saat ini sudah tutup. Karena tidak lagi mendapat pengiriman BBM sejak Mei 2019 alu. Pemilik pom mini menutup kiosnya, karena sudah jarang mendapatkan pasokan BBM bersubsidi dari Pertamina.
Salah seorang nelayan, Mohammad Halil, kepada bidik.news mengatakan, sejumlah nelayan sebagian sudah mencari pekerjaan lain. Karena kelangkaan BBM solar untuk perahu’ mereka melaut. ”Sekarang ini sulit mendapatkan solar. Beberapa nelayan sudah ada yang kerja di tempat lain, karena tidak bisa ke laut mencari ikan. Ya kalau ndak kerja anak istri makan apa, pak,” katanya.
Sementara itu Kades Tamberu Timur, Sinol, dihubungi membenarkan warga desanya yang kehidupan sehari harinya sebagai nelayan tidak bisa melaut, karena kesulitan mendapatkan solar untuk bahan bakar perahu.
Menurut Sinol, pihaknya sudah melayangkan surat ke Pemda dan dinas terkait, agar permasalahan krisis solar bersubsidi untuk perahu nelayan di Desa Tamberu Timur ini bisa diatasi. ”Sekarang ini warga desa kebingungan, karena mencari ikan di laut ini, satu satunya mata pencarian mereka. Kalau sampai solar tidak didapatkan, maka warga desa bakal unjuk rasa ke pemda,” ujarnya.
Sinoi berharap Bupati Sampang H. Slamet tanggap dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat Desa Tamberu Timur saat ini. ”Saya minta kepada pemda agar melakukan inspeksi ke Desa Tamberu Timur, pemerintah harus peka pada rakyatnya,” pungkasnya.(syam)










