PSURABAYA l bidik.news – Cuaca yang kian tidak menentu mewarnai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), periode yang lazim dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata. Kondisi tersebut menuntut calon wisatawan lebih cermat dalam merencanakan perjalanan agar tetap aman dan nyaman.
Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKB H.Makin Abbas menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama, melampaui rencana perjalanan wisata itu sendiri. Menurutnya, destinasi wisata masih dapat dikunjungi di waktu lain ketika kondisi lebih memungkinkan.
“Prinsip utamanya adalah mengutamakan keselamatan, bukan semata-mata mengejar rencana perjalanan. Destinasi masih bisa dikunjungi di lain waktu ,” ujar Anggota Komisi D DPRD Jatim bidang Infrastruktur.
Abah Makin sapaan akrab Makin Abbas menekankan pentingnya perencanaan yang matang, terutama dengan memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sesuai wilayah tujuan. Pemilihan moda transportasi juga perlu disesuaikan dengan karakter destinasi. Kereta api dinilai relatif aman untuk perjalanan jarak jauh, sementara penggunaan kendaraan pribadi harus mempertimbangkan kondisi medan.
“Jika ke daerah pegunungan, jangan menggunakan sedan. Jenis kendaraan harus sesuai dengan destinasi,” kata Ketua Badan Kehormatan ( BK ) DPRD Jatim.
Aspek akomodasi juga tak kalah penting.
Abah Makin menyarankan wisatawan memilih penginapan dengan kebijakan pembatalan dan pengembalian dana yang fleksibel. Hal itu dinilai relevan mengingat kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Strategi pemesanan mendekati hari keberangkatan atau last minute booking dapat menjadi pilihan saat kondisi cuaca sudah lebih jelas.
Dalam hal pemilihan destinasi, Politisi senior PKB asli orang Lamongan ini menilai destinasi wisata indoor seperti museum, pusat perbelanjaan, galeri seni, dan pertunjukan dalam ruangan lebih adaptif terhadap cuaca ekstrem. Sementara itu, untuk wisata alam, ia menyarankan memilih kawasan konservasi yang memiliki tata kelola baik, infrastruktur memadai, rute evakuasi yang jelas, serta sistem peringatan dini bencana.
“Destinasi alam sebaiknya memiliki manajemen konservasi yang baik sehingga aspek keselamatan wisatawan lebih terjamin,” ujarnya.
Selain perencanaan, pemahaman terhadap protokol keselamatan juga menjadi hal krusial, terutama jika wisatawan terlanjur berada di lokasi saat cuaca ekstrem terjadi. Abah Makin mengingatkan wisatawan untuk mengenali titik evakuasi dan tidak memaksakan aktivitas.
“Jika terjadi badai di gunung, protokol utamanya adalah menghentikan pendakian. Jangan memaksakan aktivitas ketika kondisi sudah tidak memungkinkan,” tuturnya.
” Saya mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan literasi terkait cuaca dan membangun komunikasi aktif dengan pengelola destinasi wisata. Ia menegaskan bahwa pengalaman masa lalu tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan dalam berwisata alam.
Alam itu tidak bisa diprediksi. Jangan memaksakan aktivitas luar ruang hanya karena pengalaman sebelumnya. Keselamatan harus selalu diutamakan,” pungkas Abah Makin .( Rofik )











