JAKARTA | bidik.news – Kinerja perbankan nasional sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang solid di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh menutupi. Fungsi intermediasi terus berjalan dengan baik, menjaga pertumbuhan kredit, likuiditas yang memadai, serta kualitas aset yang tetap terjaga.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga November 2025, kredit perbankan tumbuh 7,74% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya 7,36% Total kredit yang disalurkan mencapai Rp8.314,48 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama mendorong sektor-sektor produktif. Kredit ke sektor transportasi dan pergudangan melonjak 18,33%, disusul pengadaan listrik, gas, dan udara yang tumbuh 21,83%. Sektor pertambangan tumbuh 11%, dan sektor konstruksi tumbuh 8,14%.
“Kinerja perbankan sepanjang tahun 2025 tetap tangguh dan mampu menjaga keseimbangan antara fungsi intermediasi dan pengelolaan risiko,” ujar Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, hingga akhir tahun 2025, kinerja perbankan diperkirakan semakin solid. Pertumbuhan kredit diproyeksikan berada di atas batas bawah target OJK, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) berpotensi tumbuh 2 digit. Kondisi ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan yang tetap kuat.
Dari sisi penggunaan, Kredit Investasi mencatat pertumbuhan tertinggi 17,98% yoy. Pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir, terutama ditopang sektor pertambangan dan industri pengolahan.
“Capaian tersebut menegaskan peran perbankan dalam mendukung ekspansi dan peningkatan kapasitas sektor riil,” imbuhnya.
Sementara itu, Kredit Konsumsi tumbuh 6,67% yoy, sedangkan Kredit Modal Kerja naik 2,04% yoy. Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh signifikan 12,06% yoy, meski kredit UMKM masih terkontraksi 0,64% yoy.
Dari sisi penghimpunan dana, DPK melanjutkan tren positif dengan pertumbuhan 12,03% yoy menjadi Rp9.899,07 triliun. Likuiditas perbankan juga tetap berada di level aman. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat 29,67%, jauh di atas ambang batas ketentuan regulator.
Penurunan suku bunga turut menopang kinerja perbankan. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun menjadi 8,97% pada November 2025, terutama didorong penurunan suku bunga kredit produktif. Di sisi lain, suku bunga deposito juga menurun menjadi 4,60%, seiring dengan kebijakan penyesuaian biaya dana.
Kualitas kredit perbankan tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,21%, sementara NPL net membaik menjadi 0,86%. Ketahanan industri juga tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi, mencapai 26,05%.
Ismail menegaskan, dengan permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta pengawasan yang ketat, perbankan nasional memiliki bantalan yang cukup menahan tantangan global ke depan. “OJK terus memastikan kinerja perbankan tetap sehat dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Memasuki tahun 2026, OJK memproyeksikan kinerja perbankan tetap stabil, dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang berkelanjutan, sejalan dengan membaiknya permintaan sektor riil dan terjaganya stabilitas sistem keuangan nasional.











