GRESIK | BIDIK.NEWS – Pendidikan yang didapat dari keluarga dan lingkungan sangat mempengaruhi perilaku seseorang, dan tetangga serta teman yang hampir setiap hari ber interaksi, akan merubah pola pikir serta tingkah laku individu.
Berbekal dari ilmu yang pernah didapat ketika bersekolah di madrasah, serta seringnya mengikuti kajian dari beberapa dai, terutama yang selalu peduli pada pentingnya bersedekah.
Nanang Taufik Yuliono ( 56) alias nanang ciprut, merasakan perubahan hidupnya yang cukup drastis setelah mengalami keterpurukan, berkat kebiasaan sedekah setiap hari, maka hidupnya semakin mapan.
Kehidupan berkeluarga yang ke dua di mulai sejak tahun 2016, dan mulai hidup dalam kamar kost yang sewa perbulannya Rp 500 ribu, itupun menggunakan air sumur yang payau, dan isi kamar yang sangat mengenaskan.
Kamar yang tanpa kasur, belum mempunyai lemari, beberapa potong pakaian hanya diwadahi tas plastik yang biasa di sebut ” tas kresek” , bantal buat tidur juga beberapa baju yang ditumpuk , piring ada 2 biji, gelas 2 biji, dan alat masak yang sangat minim.
Dibalik kesederhanaan dan berada pada titik terendah dalam kehidupan, sebagai pegiat kesenian dalam bidang musik dan tarik suara, pasangan suami istri ini selalu dan setiap hari melakukan sedekah kepada orang lain, baik berupa uang ataupun makanan siap santap, apalagi seusai manggung di hajatan seseorang atau lembaga, tentu sedekahnya ditingkatkan.
Ketika lagi tidak punya uang sama sekali, dan kebetulan tidak ada job manggung, lagi nongkrong di warung dan tiba tiba ada seseorang yang memberi uang Rp 50 ribu yang hingga kini si pemberi uang masih misterius.
Uang tersebut langsung di belikan kacang tanah 1kg, minyak goreng setengah liter, dan garam, selanjutnya kacang tanah di goreng dan di bungkus plastik , direkatkan pakai lilin yang kebetulan milik tetangga sebelah kamar, selanjutnya di titipkan di beberapa warung kopi dengan sistem konsinyasi penuh.
Semangat untuk bertahan hidup, dimulai dengan membuat 25 nasi bungkus dan di jual di tepi jalan, hari pertama jualan tidak ada yang membeli sama sekali, ke 25 bungkus disedekahkan pada orang ketika tengah hari, hari ke dua menjual 25 bungkus dan laku 2 bungkus, 23 bungkus pun disedekahkan pada siang hari.
Hari ke 8 tetap menjual 25 bungkus dan hanya sekitar 10 menit sudah ludes terjual, dan setiap hari selalu membuat dan menjual 25 bungkus nasi yang rata rata terjual 20 bungkus, selebihnya disedekahkan.
Hanya beberapa bulan , sudah bisa dan dipaksa mengambil kredit mobil uang muka 12 juta, anngsuran selama 5 tahun dan hampir lunas, sehari hari mobil di buat berjualan nasi di tepi jalan dengan tambahan 1 buah meja.
Kini, sudah mempunyai cafe yang dilengkapi dengan live musik setiap hari , dan masing masing komunitas mempunyai jadwal bertemu di cafe tersebut, sekaligus untuk menyanyi dengan diiringi organ tunggal atau mini orkes.
” Setiap hari, kita bersedekah nasi bungkus, kepada siapapun yang mau dan membutuhkan nasi bungkus tersebut, bahkan kalau hari Jumat selalu disiapkan nasi bungkus yang sudah diwadahi tas plastik dan jumlah yang disedekahkan juga bertambah, kita hanya pasrah dan rejeki dari Allah,” pungkasnya.












