SURABAYA | BIDIK.NEWS PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) melalui salah satu unit pembangkitannya, PLTU Paiton dapat mengubah hasil pembakaran batu bara berupa Fly Ash Bottom Ash (FABA) menjadi rumah layak huni yang diberikan kepada Ahmad Sahroni dan Nurul Hidayah sebagai penerima manfaat.
PLTU Paiton menghasilkan FABA 130.000 ton/tahun atau 470 ton/hari. Hingga kini, angka pengelolaannya sudah mencapai 85%. Pengelolaan FABA menjadi tantangan signifikan agar bermanfaat bagi masyarakat dan bernilai ekonomi tinggi.
Sebuah rumah sederhana dengan tampilan desain modern yang berdiri kokoh di tengah deretan permukiman warga Desa Binor, Kec. Paiton, Kab. Probolinggo, menjadi bukti pengelolaan FABA PJB.
Bangunan yang berdimensi 6 meter x 9 meter ini tampil beda karena seluruh dindingnya dibangun dari susunan bata interlock dengan model mirip bata merah yang bahan bakunya berasal dari FABA.
Dewan Komisaris PT PLN (Persero), Alex Iskandar Munaf dan Eko Sulistyo yang mengunjungi langsung rumah FABA, Rabu (20/7/2022) menyampaikan harapan besar akan pemanfaatan FABA oleh PJB. Apresiasi juga diberikan kepada PJB, atas upayanya mengubah dan memanfaatkan FABA menjadi pavingblock, bata interlock dan lain-lain.
Rumah percontohan yang dibangun menggunakan material FABA telah berdiri di lahan seluas 120 meter persegi, dengan menggunakan material FABA, sehingga lebih menghemat biaya hingga 30%. Salah satunya karena tidak membutuhkan banyak semen. Untuk membangun rumah seluas 54 meter persegi diperlukan sekitar 7.200 bata.
Ini salah satu program unggulan dari tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). Selain pemanfaatan untuk rumah layak huni. PLTU Paiton juga membantu pengecoran jalan dengan kelas K250 di Desa Sumbermujur sepanjang 150 meter.
Pekerjaan perbaikan itu menyerap FABA sebanyak 100 ton. Adapun komposisi material yang digunakan adalah debu halus 21%, debu kasar 40%, semen 10%, pasir 14%, dan kerikil 13%.
Direktur Operasi 1 PT PJB, Yossy Noval mengungkapkan rencana kerja PT PJB dalam pemanfaatan FABA. “Upaya ini bagian dari kontribusi PJB agar pada 2030 nanti, secara substansial dapat mengurangi produksi hasil pembakaraan PLTU melalui tindakan pencegahan, pengurangan, daur ulang dan penggunaan kembali, dimana salah satunya melalui pemanfaatan FABA”, terangnya.
Jauh sebelum ditetapkan sebagai limbah non B3, PJB telah melakukan penanganan dan pemanfaatan FABA pada seluruh PLTU yang dikelolanya. Teknologi Bag Cloth Filter maupun Electrostatic Precipitator (ESP) berefisiensi tinggi digunakan untuk menangkap fly ash yang ikut terbawa pada udara emisi. Sehingga udara di lingkungan sekitar PLTU tidak melebihi nilai ambang batas yang telah ditetapkan.
Eko Sulistyo mensmbahkan, sisa pembakaran batubara atau FABA telah dimanfaatkan dengan cukup optimal menjadi produk-produk yang ramah lingkungan seperti bahan bangunan, substitusi semen, material pengecoran jalan maupun sebagai material restorasi tambang.
“Selain itu upaya PLTU Paiton dalam memanfaatkan FABA sebagai program CSR sangat berguna untuk menumbuhkan dan menjadi nilai tambah ekonomi masyarakat serta mendorong kerjasama pemanfaatan FABA dengan berbagai instansi maupun BUMN Karya”, ucap Eko.
Ditambahkan Alex, kinerja PJB dalam mengelola FABA patut diapresiasi. Tidak saja rumah FABA di Paiton yang sudah berdiri, namun juga di beberapa daerah lain, pengelolaan FABA sudah berjalan secara mandiri.
“Seperti di Tenayan, PJB telah bekerja sama dengan Pemerintah Kota untuk membangun perpustakaan digital pertama yang bahan baku bangunannya berasal dari FABA. Saya rasa program serupa dapat diduplikasi di PLTU lain di Indonesia”, pungkas Alex.












