SIDOARJO l bidik.news – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur dr Benjamin Kristianto , M.Kes , mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit tuberkulosis (TBC), terutama dalam mencegah penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Menurut Benjamin, TBC masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Penularan TBC terjadi melalui udara sehingga interaksi masyarakat yang sangat dekat dapat meningkatkan risiko penyebaran bakteri penyebab penyakit tersebut.
“TBC itu menularnya melalui airborne disease, artinya melalui udara. Ketika kita berbicara, apalagi dengan suara keras, ada percikan-percikan kecil yang keluar dan bakteri bisa ikut terbawa,” kata Benjamin pada Jumat (25/9/2026)
Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jatim itu menjelaskan, karakter masyarakat Indonesia yang memiliki budaya berkumpul dan gotong royong juga perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga kesehatan, khususnya ketika seseorang mengalami gejala yang mengarah pada TBC.
Benjamin mencontohkan kebiasaan berbagi minuman atau menggunakan wadah minum secara bergantian yang masih dijumpai di tengah masyarakat.
“Belum satu minum, temannya datang, kemudian dibagi minumnya. Dari sedotan itu sebagian air minum sudah bercampur dengan air liur. Ini yang harus kita waspadai,” ujar Benjamin asal Dapil Sidoarjo.
Ia juga menyoroti kebiasaan membuang dahak sembarangan sebagai salah satu hal yang harus dihindari. Menurutnya, penderita yang mengalami batuk perlu memperhatikan etika batuk dan membuang dahak dengan cara yang aman.
“Kalau kita merasa sedang batuk-batuk, pakai masker. Kalau mau meludah, ludahkan di tisu dan langsung dibuang ke tempat sampah. Jangan ditinggal di meja atau tempat lain yang bisa menyebabkan penularan kepada orang lain,” tegasnya.
Dr.Benjamin menambahkan, masyarakat juga perlu mengenali sejumlah gejala TBC. Di antaranya adalah batuk yang berlangsung lama dan tidak kunjung sembuh, penurunan berat badan, serta keringat pada malam hari.
“Biasanya ada batuk kronis, batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh. Kemudian berat badan turun. Kadang juga disertai keringat malam,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa munculnya satu gejala saja tidak otomatis berarti seseorang menderita TBC. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Lebih lanjut, Benjamin menegaskan TBC bukan penyakit yang diturunkan secara genetik dari orang tua kepada anak. Penularan terjadi akibat paparan bakteri, termasuk ketika anak berada dalam kontak erat dengan penderita TBC.
“Jadi TBC itu bukan diturunkan atau genetik. Tetapi bisa menular kepada anak kecil karena kebiasaan dan kontak erat. Misalnya setiap hari digendong oleh orang tua atau kakeknya yang menderita TBC,” terangnya.
Karena itu, Benjamin meminta masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan agar tidak takut memeriksakan diri. Penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah penyakit berkembang dan menimbulkan komplikasi.
“Kalau ada gejala batuk-batuk, jangan takut untuk segera berobat atau diperiksa. Kalau segera diobati, meskipun pengobatannya enam bulan, bisa sembuh tuntas,” kata Dr. Benjamin Pemilik RS.Sheila Medika Juanda Sidoarjo.
Ia menekankan pengobatan TBC harus dijalani sesuai ketentuan tenaga kesehatan hingga selesai. Pasalnya, pasien yang menghentikan pengobatan ketika merasa sudah membaik berisiko mengalami masalah resistensi obat.
“Pengobatan TBC yang enam bulan itu harus diminum sampai tuntas. Jangan diputus di tengah jalan, misalnya baru dua atau tiga bulan karena sudah merasa enak. Bukan berarti kumannya sudah hilang. Kalau pengobatan tidak tuntas, kuman bisa menjadi resisten,” jelas Benjamin.
Menurutnya, keterlambatan penanganan TBC juga dapat meningkatkan risiko komplikasi. Penyakit tersebut tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi dapat mengenai organ tubuh lainnya.
Legislatif Senior ini menyebut TBC dapat menyebabkan gangguan pada selaput otak, kelenjar getah bening, paru-paru, perut, hingga tulang belakang. Pada kondisi tertentu, TBC juga dapat memengaruhi sistem reproduksi.
“Kalau terlambat, bisa terjadi komplikasi. Mulai dari kepala sampai ujung kaki bisa terkena. Karena itu, jangan menunggu sampai terjadi komplikasi,” tuturnya.
Di sisi lain, Benjamin menilai peningkatan daya tahan tubuh juga penting dalam upaya pencegahan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pola makan bergizi, termasuk mencukupi kebutuhan protein, serta istirahat yang cukup.
“Protein itu untuk imunitas, untuk daya tahan tubuh. Jadi sebenarnya bukan hanya protein, tetapi bagaimana meningkatkan daya tahan tubuh melalui makanan bergizi dan istirahat yang cukup,” paparnya.
Ia juga menjelaskan paparan sinar matahari berkaitan dengan pembentukan vitamin D yang turut berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Namun, menurutnya, hal tersebut bukan berarti sinar matahari menjadi satu-satunya cara untuk mencegah TBC.
Benjamin berharap kesadaran masyarakat terhadap pencegahan, deteksi dini, dan kepatuhan menjalani pengobatan dapat terus ditingkatkan. Dengan demikian, penularan TBC dapat ditekan dan pasien dapat memperoleh pengobatan secara optimal. ( Rofik )











