SAMPANG – Pemuda Milenial di Desa Robatal, berhasil melaksanakan panen bawang dengan hasil yang melimpah, Jumat (18/6/2020).
Sunardi, 29, pemuda asal di Desa . Robatal Kecamatan Robetal ,Kabupaten Sampang , Madura, bersama Poktan Sumber Tani, memulai rintisan menanam bawang mearh sejak 4 tahun silam. Hasil yang selalu memuaskan, keberhasilannya ini nampak melalui tanam Bawang merah dari hasil tanam sendiri. “Saya mampu memberangkatkan umroh, sebelum pandemi Covid19 menyebabkan larangan berangkat haji dan umroh,” katanya.
Sunardi tambah yakin bahwa budidaya Bawang merah sangat menjanjikan jika ditekuni. ”Saya merasa berkecukupan menanam Bawang merah dari lahan 4 Petak yang saya miliki. Akan tetapi pandemi tidak berhenti menyebabkan terbatasnya saya untuk mengembangkan budidaya ini,” ujarnya.
Akan tetapi saya tidak putus asa saya terus menanam walaupun satu petak untuk percontohan pemuda milenial yang saya dengar sedang dilirik oleh Pemerintah,untuk mempercepat pembangunan pertanian khususnya.
”Saya bersyukur teman teman milenial mendukung tujuan saya membantu pembangunan desa lewat pertanian dan mendapat dukungan pula dari penyuluh pertanian yang ada di BPP.”
Dari pihak BPP Pertanian, Kurnia Hidayati, mendorong Sunardi untuk mensosialisasikan ilmu menanam bawang merah ke masyarakat lebih luas
Kurnia Hidayati penyuluh pendamping Desa Robatal, juga membentuk kelompok taruna Tani dan Kurnia sebagai ketuanya yang diberi nama Sumber Makmur.
”Saya berharap Melalui lembaga ini diharapkan kami bisa berkiprah lebih jauh lagi membangun pertanian di desa Robatal,dan Hadir pada kesempatan acara panen Bawang merah kali ini,” ujarnya.
Pada kesempatan panen raya bawang merah itu, hadir Kepala Bidang ISDPP (informasi sumberdaya pertanian dan pangan) Widji, SP, MMA, Bidang Pertanian dan Hortikultura yang diwakili Choir, M. Si, penyuluh KJF (kelompok Jabatan Fungsional) Kabupaten yakni Sulton, Nining, Krisna, Eeko dan staf, Hadir pula ketua GPMS Robatal ustadz Mahmud Nuri dan beberapa anggota yang lain.
Ketua GPMS yang hadir juga menerangkan, setelah dilakukan pengubinan, penimbangan dan pengukuran/perhitungan tanaman hasilnya rata rata 8 umbi perumpun ubinan mencapai 9,6 kg dengan demikian diperoleh produksi seluas satu hektar 9,6 kg x 1.600 = 15,36 ton atau 153,6 kwintal per hektar.
Perhitungan ini belum di konversi ke Bawang merah kering siap jual,Rendemen dan bobot Bawang merah Sampang lebih bagus dari yang lainnya karena struktur tanah madura memang cocok untuk tanaman Bawang merah.
”Artinya produksi Bawang di Desa Robatal lebih keset, tidak mudah kopong dalam penyimpanan dua bulan, karena petani kita tidak menggunakan urea sama sekali,” kata Wiji.
Wiji menmabhkan, selaku Kabid Penyuluh Di Dinas Pertanian ,Disini ada 6 orang yang menanam Bawang merah salah satunya pak Nardi, yang terluas lahannya di Desa Sokobanah,seluasnya lahan lebih dari 3.000 ha sampai lereng lereng bukit penuh dengan tanaman Bawang merah.
Selanjutnya Apabila untuk benih supaya dikeringkan dilahan sampai daunnya kering kemudiandiikat jadi satu taruh dan gantung di tempat yang tidak lembab,kata beliau pembangunan hortikultura tidak harus berupa hamparan tetapi pendekatannya melalui kampung seperti kampung Bawang merah disini ini.
Jika sekiranya akan menanam Bawang untuk bibit maka jarak tanam dirapatkan, memang hasilnya kecil kecil tapi cocok untuk bibit dan jangan khawatir umbinya kecil juga,Umbi akan menjadi besar dan tanaman sehat jika tanah gembur dan banyak mengandung organik.
Widji pernah mencoba juga menanam Bawang di BPP Camplong atau wilayah kerjanya yang lama dan besar besar hasilnya. Umbi yang kecil kecil disortir bisa untuk bibit yang akan ditanam lagi, tapi jika basah bisa di rekayasa yang dilakukan dengan memotong 1/3 ujungnya agar cepat bertunas tambahnya.
Bagaimana jika umbi busuk dan bagaimana cara mencegahnya tanya salah satu anggota petani milenial. Widji mengatakan, umbi busuk terjadi bisa karena tanah terlalu asam, biasanya terlalu banyak air dan terkena virus. ”Pencegahannya sebelum ditanam bibit bisa diberi fungisida atau saat menyimpan bibit sudah dikenalkan dengan dolomit (kapur pertanian),” unkapnya.











