SURABAYA | BIDIK NEWS – Pada Juli 2019, Jawa Timur mengalami inflasi 0,16% atau dari 135,36 pada Juni 2019 menjadi 135,57 pada Juli 2019. Inflasi Jatim pada Juli 2019 lebih rendah dari infasi nasional 0,31%. Inflasi ini dipicu naiknya harga cabe rawit, emas perhiasan dan daging ayam ras. Dan inflasi Juli 2019 lebih tinggi jika dibanding periode yang sama 2018. Dimana pada Juli 2018 mengalami inflasi 0,07%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono mengatakan, apabila dilihat trend musiman setiap Juli selama 10 tahun terakhir (2010-2019), seluruhnya terjadi inflasi. Pada Juli 2013 merupakan inflasi tertinggi, yaitu 2,96%. Sedangkan inflasi terendah terjadi Juli 2018 sebesar 0,07%.
Penghitungan angka inflasi di 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim selama Juli 2019, 6 kota mengalami inflasi dan 2 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kediri, mencapai 0,44%, diikuti Banyuwangi 0,39%, Jember 0,24%, Malang 0,20%, Madiun 0,17%, dan Surabaya 0,11%.
“Dua kota yang mengami deflasi adalah Sumenep 0,08% dan Probolinggo 0,05%,” ujar Teguh di kantornya, Kamis (1/8/2019).
Dari 7 kelompok pengeluaran, 6 kelompok mengalami inflasi dan 1 kelompok mengalami deflasi. Kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok Sandang 0,93%. Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi adalah kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 0,63%.
Sementara komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Jatim di Juli 2019 ialah cabai rawit, emas perhiasan dan daging ayam ras. Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar deflasi ialah angkutan udara, tarif kereta api, dan angkutan antar kota.
Sedangkan laju inflasi tahun kalender Jatim di Juli 2019 mencapai 1,32%. Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2019 terhadap Juli 2018) mencapai 2,50%.
“Pada Juli 2019, kelompok inti mengalami inflasi 0,16%, komponen yang diatur pemerintah mengalami deflasi 0,55%, dan komponen bergejolak mengalami inflasi 0,96,” pungkas Teguh. (hari)











