BIDIK NEWS | KOTA BATU – Kolaborasi antara dunia usaha, dunia industri dan perguruan tinggi berperan vital dalam memberikan pendampingan terhadap masyarakat perkampungan. Membangun perkampungan menjadi basis membentuk peradaban tatanan sosial di dalamnya.
Saat berkunjung ke Kota Batu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meresmikan Kampung Hijau yang berada di Dusun Krajan Sae, Desa Beji, Kota Batu (Sabtu, 6/3). Lahirnya Kampung Hijau ini merupakan kolaborasi antara Jatim Park Grup, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan PT INDANA, sebuah perusahaan produsen cat.
Sebelum meresmikan Kampung Hijau, Khofifah terlebih dulu datang ke Jatim Park 3 untuk melakukan pemotongan replika dinosaurus yang disusun dari ratusan potongan tempe yang diberi nama ‘Tempenosaurus’. Ratusan potongan tempe itu dibuat oleh pelaku UMKM Kampung Hijau.
Tempenosaurus berukuran 7×5 meter ini masuk dalam catatan rekor MURI sebagai replika dinosaurus terbesar dari tempe. Piagam penghargaan rekor MURI ini diberikan kepada Prodi Ilmu Komunikasi UMM selaku dari pihak perguruan tinggi yang memberikan pendampingan di Kampung Hijau.
Rekor MURI juga diberikan kepada Paul Sastro Sendjojo sebagai pemegang Rekor Dunia Mahakarya Kebudayaan MURI atas ‘Pelopor Pengembangan Pariwisata dan Potensi Lokal Kota Batu’. Rekor ini merupakan penghargaan tertinggi MURI kepada seseorang yang mendedikasikan hidupnya di bidang kebudayaan, kemanusiaan, lingkungan hidup. Owner Jatim Park Grup itu merupakan orang ke 10 yang menerima penghargaan Mahakarya Kebudayaan MURI.
Rekor Dunia MURI lainnya diberikan kepada PT INDANA atas penghargaan ‘Perusahaan Pelopor Pengecatan Kampung’. Ketiga rekor MURI diberikan langsung Wakil Ketua Umum & Direktur MURI Aylawati Sarwono.
Kehadiran mantan Menteri Sosial itu ke Jatim Park 3 sekaligus menghadiri pembukaan Galeri MURI yang menyatu dengan wahana The Miracle Jatim Park 3. Kedatangan Khofifah membuat para wisatawan Jatim Park 3 dan warga di Kampung Hijau saling berebut untuk berjabat tangan dan berfoto bersama dengan orang nomor satu di Jawa Timur itu.
Khofifah mengatakan membangun kampung adalah membangun peradaban untuk membangun tatanan sosial dan melestarikan budaya yang tumbuh di dalamnya. Peradaban yang dibangun perlu diiringi pula dengan penunjang infrastruktur, budaya dan solidaritas sosial yang menjadi bagian pendorong pertumbuhan ekonomi.
Jadi tidak sekedar menyiapkan kampung dengan warna tertentu. Maka partnership antara dunia usaha dan dunia industri (DUDI) serta perguruan tinggi menjadi pendamping perkampungan di Jawa Timur sebagai referensi kehidupan, ekonomi, sosial dan budaya. Keberlanjutan pendampingan itu yang tak mudah. Tapi mendampingi, agar tata krama dan tatanan sosial terbangun itulah yang membutuhkan pendampingan dari lembaga yang punya komitmen terutama dari perguruan tinggi,” papar Khofifah. (Did)











