BIDIK NEWS | BLITAR – Kamis (5/7) siang, seluruh masyarakat Desa Ampelgading, Kec Selorejo, Kab Blitar Jawa Timur berkumpul bergembira dengan bernyanyi dan berjoget mengikuti alunan musik dangdut dalam panggung hiburan.
Dimana panggung hiburan tersebut menandai bahwa Desa Ampelgading resmi menjadi Desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Sebelumnya, Desa Sukosewu, Kec Gandusari. Jadi di Kab Blitar, terdapat 2 Desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.
Desa Ampelgading Kec Selorejo adalah salah satu desa yang terletak di kaki Gunung Kawi. Berhawa dingin dan berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat kota Blitar. Desa yang berpenduduk 3.660 jiwa ini, mayoritas warganya adalah sebagai petani.
Hadir dalam kegiatan itu, Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto, Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Eko Darwanto, Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jatim Dodo Suharto dan Wakil Bupati Blitar Marhaenis Urip Widodo.
Juga Kakacab BPJS Ketenagakerjaan Blitar Arie Fianto Syofian, Kepala Desa Ampelgading Suyanto serta seluruh Kakacab BPJS Ketenagakerjaan se kanwil Jatim.
Dodo Suharto mengatakan, keberadaan BPJS Ketenagakerjaan yang merambah hingga ke pelosok pedesaan itu menunjukkan kehadiran negara terhadap warganya yang sedang tertimpa musibah. “Bukan hanya pekerja di perkotaan saja yang butuh jaminan sosial. para petani justru memiliki risiko lebih tinggi saat menjalankan profesinya,” katanya.
Untuk melindungi seluruh masyarat pekerja, BPJS Ketenagakerjaan semakin aktif membuka peluang terbentuknya Desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. “Kami tidak ingin ada keluarga pekerja yang langsung jatuh miskin hanya gara-gara kepala keluarganya mengalami musibah,” ungkapnya.
Sedangkan Agus Susanto menambahkan, Desa Ampelgading terpilih sebagai Desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, karena telah memenuhi beberapa persyaratan yang ditetapkan BPJS Ketenagakerjaan.
“Yakni, telah terdaftarnya Kepala Desa dan seluruh perangkatnya pada program BPJS Ketenagakerjaan. Juga, antusias warganya mensosialisasikan program BPJS Ketenagakerjaan,” tuturnya
BPJS Ketenagakerjaan, lanjut Agus, membuktikan komitmennya, mengusahakan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi seluruh pekerja Indonesia, baik Penerima Upah (PU) maupun Bukan Penerima Upah (BPU), dimana pun berada.
Sementara Kades Ampelgading, Suyanto juga memaparkan, hingga pekan ini, dari 1.150 petani yang ada di wilayahnya, sebanyak 300 petani sudah terdaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan yang prosesnya dibantu perangkat desa yang menjadi agen Perisai.
Dan manfaat menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, ditambahkan Suyanto, langsung dirasakan 2 warganya saat mengalami musibah kecelakaan kerja, bahkan ada yang meninggal dunia.
Yakni, Suwarno (41) yang sedang memetik cengkeh, terluka parah akibat jatuh dari atas pohon setinggi 8 meter. Korban yang patah tulang dan terluka di bagian punggung hingga kaki itu, akhirnya dirujuk ke RS Dafa Husada Malang. “Waktu itu para tetangga heran, saat mengetahui keluarga korban tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya perawatan,” ujarnya.
Serta Miyarto (65) yang belum 2 bulan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, meninggal dunia karena sakit. “Oleh BPJS Ketenagakerjaan, ahli waris korban diberi klaim santunan Jaminan Kematian (JKM) sebesar Rp 45 juta,” ucap Suyanto.
Musibah yang menimpa Suwarno dan Miyarto yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan menambah keyakinan warga desa setempat semakin bertambah, saat melihat sendiri petugas BPJS Ketenagakerjaan yang begitu mudahnya menyalurkan klaim JKK dan JKM.
“Kesimpulannya, seluruh warga kami sekarang menjadi sadar. Betapa pentingnya menjadi peserta dan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan di saat mereka menjalankan aktivitasnya sebagai petani dan perangkat desa,” pungkas Suyanto bersemangat. (hari)











