SURABAYA – Pasca natal dan tahun baru (Nataru) 2019/2020, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Jatim, Bali, Nusa Tenggara bisa menjalankan fungsinya untuk suplay pasokan energi, baik BBM dan LPG ke masyarakat.
Dimana selama mas satgas sampai Minggu (5/1/2020) kemarin terjadi peningkatan 5% untuk produk gas, yakni premium pertalite pertamax, turbo di Jatim. Justru untuk gas oil solar dexlite turun 2%.
Hal itu dilontarkan Rustam Aji, Unit Manager Communication & CSR MOR V Jatim, Bali, Nusra usai menjadi narasumber di Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kuota BBM & LPG Subsidi 2020 di Jatim dan Antisipasi Kekurangan Stok Akhir Tahun”. Kegiatan ini digagas Dewan Energi Mahasiswa (DEM) se Surabaya, Senin (6/1/2020).
Dijelaskan Rustam, walaupun secara total gas oil nya turun, tapi dexlite naik. Sehingga memang yang turun hanya solarnya saja. Karena beberapa hari sempat terjadi ada pembatasan kendaraan angkutan barang untuk beroperasi. Sedangkan untuk gasoline nya dari 5% itu yang tertinggi adalah kenaikan untuk jenis pertalite dan pertamax. Jadi untuk premiumnya relatif stabil.
“Kita juga melihat, masyarakat sebenarnya untuk yang berwisata dan berlibur, melakukan rute perjalanan jauh sebenarnya sudah sadar. Bahwa mereka ingin BBM yang berkualitas, sesuai dengan spesifikasi mesin,” ujarnya.
Di SPBU beberapa ruas tol, lanjutnya, rata-rata kenaikannya 60%, bahkan naik 4x lipat dalam 2 hari puncak liburan. Dan pengaruhnya untuk tol Jawa sudah tersambung dari Banten sampai Probolinggo. Kalo diteruskan ke Sumatra, bisa ke Lampung dan Palembang.
“Jadi jmemang trendnya sekarang, orang berlibur lebih memilih kendaraan darat dibanding tiket pesawat yang masih mahal. Mereka punya alternatif menggunakan kendaraan darat bareng-bareng. Mungkin info dari kawasan Batu, kalau dulu sebelum ada tol mungkin hanya plat L saja. Tapi sekarang juga banyak mobil plat B, bandung dan lainnya,” katanya.
Sementara untuk pasokan LPG, ditambahkan Rustam, ada kenaikan 3% untuk LPG rumah tangga kenaikannya kecil sekitar 2%. Tapi LPG yang non subsidi kenaikannya sampai 5%. “Jadi masyarakat berlibur mengurangi aktifitas masak. Justru yang banyak di hotel, tempat wisata, rumah makan, restoran, kebutuhannya naik,” tegasnya.
Sementara untuk kegiatan FGD, Rustam menyambut positif, karena para mahasiswa bisa tercerahkan dan paham yang dimaksud BBM subsidi, jenis-jenis nya dan bagaimana pengawasannya.
“saya harap mahasiswa bisa berkontribusi agar BBM bersubsidi lebih tepat sasaran. Mahasiswa harus diberi pemahaman yang benar, karena suara mereka cukup didengar. Jangan sampai mereka menyuarakan sesuatu tapi informasinya kurang pas,” ujar Rustam.
“Misalnya ada perubahan harga BBM bersubsidi, tapi protesnya ke Pertamina. Padahal bukan Pertamina yang menentukan harga. Dan ketika ada penyalahgunaan di lapangan, mereka juga harus paham kewenangan untuk pengawasan itu siapa saja dan sampai dimana. Itu yang harus diberi pemahaman,” pungkasnya.











