SURABAYA – Laju inflasi tahun kalender Jawa Timur di Januari – Desember 2019 mencapai 2,12%. Angka ini lebih rendah dibanding inflasi tahun kalender Desember 2018 sebesar 2,86%.
Kabid Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Satriyo Wibowo mengatakan, laju inflasi tahun kalender Jatim di Januari- Desember 2019 lebih rendah dibanding laju inflasi tahun kalender nasional pada desember 2019 sebesar 2,72%.
“Inflasi tahun kalender ini lebih rendah dibanding target pemerintah yang mematok inflasi 3 plus minus 1%,” ujar Satriyo saat press rilis inflasi di Surabaya, Kamis (2/1/2020).
Selama 2019, dari 7 kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi. Kelompok pengeluaran yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi adalah kelompok Bahan Makanan 0,52%. Diikuti kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau 0,50%.
Disusul kelompok Sandang 0,33%, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar 0,26%. Kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga 0,22%, kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 0,17% dan kelompok Kesehatan 0,11%.
Komoditas utama yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi sepanjang 2019 di Jatim adalah emas perhiasan, biaya sekolah dasar, bawang merah, rokok kretek filter, bawang putih, sepeda motor. Disusul kontrak rumah, biaya akademi/perguruan tinggi, cabai rawit dan tukang bukan mandor.
Sedangkan komoditas utama yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi adalah beras, bensin, daging ayam ras, wortel, tarif listrik, besi beton, telepon seluler, televisi berwarna, tongkol pindang, dan telur ayam ras.
“Emas perhiasan memberikan sumbangan utama terjadinya inflasi sepanjang 2019 yang disebabkan kenaikan harga sepanjang 2019. Emas perhiasan menjadi 10 komoditas utama penyumbang inflasi pada Januari, Februari, Maret, Juli, Juni, dan Agustus. Kenaikan terbesar harga emas perhiasan diawali Juni 2019. Sepanjang 2019, emas perhiasan memberikan andil kenaikan inflasi 0,20%,” kata Satriyo.
Selain beberapa komoditas yang mendorong inflasi, beberapa komoditas lain justru mampu menahan laju inflasi selama 2019, yakni beras. Harga bensin juga mengalami penurunan di 2019. Penurunan harga BBM terjadi pada Februari 2019 untuk beberapa BBM non subsidi.
Berdasarkan pengelompokan disagregasi inflasi/kelompok inflasi selama 2019 menunjukkan, seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen yang bergejolak mengalami inflasi tertinggi mencapai 2,58%. Diikuti komponen inti 2,46%, dan komponen yang diatur pemerintah 0,60%.
“Andil terbesar terjadinya inflasi berasal dari komponen inti 1,55%. Lalu komponen yang bergejolak menyumbang 0,46%, dan kelompok yang diatur pemerintah menyumbang 0,12%,” tuturnya.
Sedangkan komoditas kelompok barang dari komponen inti yang mempunyai andil besar terjadinya inflasi 2019 ialah emas perhiasan, biaya sekolah dasar, sepeda motor, kontrak rumah, biaya akademi/perguruan tinggi, dan tukang bukan mandor.
Untuk komponen yang diatur pemerintah, andil inflasi terbesar berasal dari rokok kretek filter. Sedangkan untuk komponen yang bergejolak, andil inflasi terbesar berasal dari bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit.









