JOMBANG | bidik.news – Di tengah tantangan cuaca lembab pegunungan Wonosalam, para pengrajin batik dan ecoprint kini bernapas lega. Berkat inovasi mesin pengering kain berbasis infrared yang dibawa Tim PKM Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, proses pengeringan yang dulu memakan waktu hingga 3 hari kini hanya butuh 90 menit.
Tim dosen dari kedua kampus ini berkolaborasi menghadirkan solusi modern bagi para pengrajin di Desa Sumberjo, Kec. Wonosalam, melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) 2025.
Bantuan diberikan kepada sentra kerajinan Nusantria Batik Ecoprint sebagai upaya meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga kualitas karya.
Ketua Tim PKM Unitomo, Safrin Zuraidah menjelaskan, teknologi ini mampu memangkas waktu produksi secara signifikan. “Dengan mesin dryroom infrared ini, proses pengeringan 12 lembar kain dapat selesai hanya dalam 90 menit. Produktivitas meningkat hingga 300 persen, dan kualitas warna kain pun lebih terjaga”, ungkap dosen senior prodi teknik sipil Unitomo ini, Rabu (13/8/2025).
Tak hanya menyerahkan mesin, tim dosen PKM yang terdiri dari Safrin Zuraidah dan Ilya Farida (Unitomo) serta Ichlas Wahid (Untag Surabaya) juga memberi pelatihan penggunaan dan perawatan alat. Selain itu, mereka mengajarkan inovasi pembuatan canting cap dari bahan kardus yang lebih ekonomis. Meski masa pakainya relatif singkat, canting cap ini memudahkan pengrajin menciptakan motif unik sesuai permintaan pasar.
Anggota tim PKM dari Untag Surabaya, Ichlas Wahid, berharap dukungan ini mampu memotivasi generasi muda pengrajin. “Semoga pelatihan ini mendorong mereka melestarikan sekaligus mengembangkan seni batik dan ecoprint, sambil memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi,” ujar dosen prodi teknik mesin ini.
Kepala LPPM Unitomo, Prof. Nur Sayidah, menegaskan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan pelaku usaha lokal. “PKM ini bukti nyata bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat. Kami ingin pengrajin di Desa Sumberjo, Wonosalam tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan memadukan kearifan lokal dan teknologi modern,” tuturnya.
Dengan adanya dukungan teknologi ini, diharapkan batik dan ecoprint asal Desa Sumberjo Wonosalam semakin kompetitif, baik di pasar lokal maupun nasional, sekaligus mempertahankan identitas budaya yang menjadi kebanggaan daerah.











