BANGKALAN — Menjalani hidup di dunia tidak semudah yang kita bayangkan, jika salah jalan, bisa terjerumus ke dalam lembah kenistaan yaitu Neraka Jahannam Abadi selamanya, Naudzubillah.
Menyikapi kodrat kehidupan didunia ini , tentu akan berhadapan dengan berbagai macam cobaan rintangan dan ujian hidup, baik lika-liku kesenangan kesedihan akan selalu mewarnai kehidupan, dengan berbagai macam komplek problemanya ” itulah Dunia ”
Namun Allah sudah mengutus Rasul atau Nabi agar hambanya tidak salah langkah dan selamat dunia akhirat dengan tetap berpegang teguh bersama Al, Qur.An dan Hadist.
Sedikit mengupas tuntas tentang kehidupan segelintir manusia yang di antaranya mengambil langkah mencari jati diri dengan melakoni, berkelana menjadi musafir, meski tidak sedikit kebanyakan dari mereka tergelincir tersesat dalam kesesatan.
Mari kita simak kisah yang dilakoni Abdul Basori asal Magelang Jawa Tengah,yang biasa di panggil Bindere Basor (65 )Thn ketika ditemui awak media ini bersedia mengisahkan perjalanan hidupnya, Minggu (30/5/2021)
”Sudah lama kita tidak jumpa ya Mas, kurang lebih tujuh tahun,” ujar Bindere Basori mengawali pertemuannya dengan awak media ini yang sudah sekian tahun tidak saling silaturrahmi.
Dalam kesempatan yang sama ketika diminta untuk mengisahkan sekelumit kisahnya, walau agak ragu, namun tidak lama kemudian Dia berkenan mengisahkan.
”Kala itu aku masih remaja Desa yang biasa mengaji di kampung,” ujarnya.
Singkat cerita setelah mendapat restu orang tua dan gurunya yang dikenal dengan istilah Ustad Kampung.
Sekitar tahun 1977 saya mulai melakukan perjalanan pengembaraan dari satu makam pindah ke makam aulia lainnya, memasuki hutan, melewati gunung maupun bukit terjal diterpa panasnya matahari, hujan dan dinginnya malam, hingga akhirnya pada tahun 1979 aku sampai di Gunung Bukit Bujuk /Buyut Sleret Wilayah Galis Kabupaten Bangkalan Madura,
Di Bukit Sleret ini aku menetap iktikaf hampir 1 tahun, Atas kehendak Allah tidak lama kemudian kenal dengan seorang remaja warga setempat ,lalu dikenalkan dengan adiknya bernama Mariam janda anak satu dan Alhamduliilah akhirnya menjadi jodohku,
Melihat kampung ini banyak anak-anak remaja, lalu kubuat Musholla seadanya,yang terbuat dari kayu beralaskan Bambu.
”Meski yang ngaji hanya 5/7 anak, tetap aku telateni hingga berpuluh tahun lamanya dan untuk kebutuhan dapur selain bertani atau mencari kayu juga mencari nafkah
dengan menawarkan dagangan tas dari ayaman plastik dijual setiap ada pasaran Desa ,ya cukup buat beli beras” pungkasnya sambil menutup kisahnya.
Lelaki Asli Kampung Sedayu Kelurahan Ngawonggo Kecamatan Kali Angkrek Magelang Jawa Tengah ini, mempunyai satu anak lelaki yang berhasil lulus dari salah satu Pesantren di Madura hingga mengajar ngajipun diteruskan oleh anaknya.
Kakek dan Nenek tiga cucu ini kini hidup bahagia dalam hidup kesederhanaannya sambil menunggu masanya tiba dan menetap di Kampung istrinya di Dusun Panetan Desa Longkek Kec Galis Bangkalan Madura.
Disinggung dari Gubuk Musholla menjadi Masjid Megah, Basori hanya mengatakan Sabar dan Ikhlas, Sholat serta Ikhtiar itulah kunci kesuksesan.
jadi semua atas kuasa Allah. kami beserta warga bergotong royong dan Alhamduliilah semua diberikan kemudahan.terangnya tanpa mau merinci,hamba Allah mana yang menjadi donatur utamanya.












