BIDIK NEWS | SURABAYA – Banyaknya pembajakan terhadap industri kreatif mengundang keprihatinan berbagai pihak, termasuk Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) Kota Surabaya.
Dalam sesi talkshow bertema “Kampanye Anti Pembajakan Surabaya” yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI di Atrium Fashion Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya, Sabtu (6/10). Dr Ir Jamhadi, MBA (Ketua KADIN Surabaya) dan Fauzan Zidni (Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia/APROFI) mengulas tuntas tentang pembajakan serta kerugian yang diakibatkannya. Serta solusi mengatasi pembajakan.
“Industri kreatif menyumbang 7% terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Kalau bocor sedikit masih bisa toleransi, tapi kalau nilainya banyak, itu yang harus dicegah,” kata Jamhadi di hadapan pengusaha industri kreatif dan aktivis anti pembajakan.
Munculnya pembajakan, lanjutnya, tidak lepas dari mudah dan banyaknya medan untuk dibajak. Ditambah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Sejauh ini, untuk mencegah pembajakan itu, KADIN melakukan sosialisasi ke beberapa pengusaha. Selain itu diperlukan Satgas Anti Pembajakan di setiap kab/kota.
“Satgas Anti Pembajakan itu semacam Satpol PP. Dia diberi perangkat, misalnya Perda Anti Pembajakan,” ujar Jamhadi, yang juga menjadi CEO Tata Bumi Raya.
Upaya lain yang bisa mencegah pembajakan, lanjut Jamhadi, ialah melalui provider telekomunikasi. Sistemnya melalui profit sharing. Juga memperbanyak outlet-outlet produk kreatif yang harganya murah.
“Pembajakan itu bisa dicegah dari kesadaran pengguna. Jika itu belum efektif, maka pilihan terakhir ialah sanksi administrasi dan pidana diperberat. Dalam hal ini diatur dalam UU Hak Cipta, ITE, dan bisa perda ekonomi kreatif,” jelasnya.
Diakui Jamhadi, di Indonesia banyak kemajuan di sektor ekonomi. Misalnya kemudahan berusaha di Indonesia naik peringkat dari 117 di dunia menjadi 70. Ranking infrastruktur naik dari 63 di dunia menjadi 47. Dan PDB se-Asia diranking 4 dengan nilai USD 3.492 triliun.
“Ranking indeks inovatif Indonesia ranking 87 dari 117. Namun ranking tentang jumlah paten di Indonesia yang masih di urutan 103 harus di support agar meningkat,” kata Jamhadi.
Terkait hal itu, Jamhadi punya beberapa jurus supaya indeks paten Indonesia meningkat. Hal itu penting. Karena ada korelasi antara jumlah paten dengan pertumbuhan ekonomi.
“Estimasi setiap pertumbuhan 1% paten bisa meningkatkan ekonomi 0,06%. Tahun ini jumlah paten yang terdaftar di WIPO (Organisasi Hak atas Kekayaan Intelektual Dunia/World Intellectual Property Organization) terjadi peningkatan 2 kali lipat. Untuk itu, SKPD, perguruan tinggi dan perusahaan bisa meningkatkan anggaran untuk RnD (research & development). Apalagi, jumlah perguruan tinggi di Indonesia cukup banyak. Secara nasional kurang lebih 3184 perguruan tinggi, di Jatim sekitar 300, dan di Surabaya 64 perguruan tinggi,” jelas Jamhadi. (hari)










