SURABAYA | BIDIK – Hasil pendaftaran Sensus Ekonomi 2016 (SE 2016) tercatat Jatim kini memiliki 4,67 juta usaha/perusahaan non pertanian. Jumlah tersebut meningkat 10,94 persen dibandingkan dengan hasil SE 2006 sebanyak 4,21 juta usaha/perusahaan non pertanian. Sensus Ekonomi 2016 dikelompokan dalam 15 kategori lapangan usaha sesuai dengan klarifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) 2015.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono mengatakan, manfaat data hasil SE2016 adalah untuk mengetahui gambaran usaha-usaha atau memetakan daerah-daerah yang ekonominya masih tergolong rendah karena kurangnya aktifitas ekonomi dan sumber pendapatan masyarakat.
“Peta tersebut di Jatim menunjukan daerah Kabupaten Pacitan dan Trenggalek. Untuk itu pemerintah segera turun tangan untuk permasalahan ini,” ungkap Teguh saat Sosialisasi dan merilis Hasil Listing SE2016 di Hotel JW Marriot, Rabu (24/5/2017).
Menurutnya, SE 2016 bila dibedakan menurut skala usaha menghasilkan 4,21 juta usaha/perusahaan atau 98,64 persen usaha berskala mikro kecil (UMK), dan 0,6 juta usaha /perusahaan serta 1,36 persen berskala usaha menengah besar (UMB).
Hasil pendaftaran SE 2016 menunjukan bahwa jumlah usaha menurut lapangan usaha didominasi oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran sebanyak 2,08 juta usaha atau 44,58 persen dari seluruh usaha yang berada di Jatim.
Sementara jumlah tenaga kerja menurut lapangan usaha sejalan dengan jumlah usaha didominasi oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran sebanyak 4,30 juta tenaga kerja atau 29,98 persen dari seluruh tenaga kerja yang ada di Jatim. Kemudian diikuti oleh lapangan usaha industri pengolahan 18,42 persen dan penyediaan akomudasi makan minum 17,61 persen serta selebihnya 19,39 persen merupakan lapangan usaha lainnya.
Sedangkan sebaran jumlah usaha antar Bakorwil secara umum menunjukan bahwa sebanyak 1,62 juta usaha berada di bakorwil III atau 34,76 persen terhadap jumlah usaha di Jatim. Kemudian berada di bakorwil IV sebanyak 25,33 persen, Bakorwil I sebanyak 20,88 persen dan sisanya berada di bakorwil II sebanyak 19,12 persen.
Berbeda dengan sebaran jumlah usaha menurut Bakorwil yang terkonsentrasi di bakorwil III. Sebaran tenaga kerja antar bakorwil secara umum menunjukan jumlah tenaga kerja terbanyak berada di Bakorwil IV sebanyak 5,70 juta orang tenaga kerja atau 39,71 persen terhadap seluruh tenaga kerja non pertanian di Jatim. Kemudian diikuti bakorwil III sebanyak 29,96 persen, Bakorwil II sebanyak 16,37 persen dan Bakorwil I sebanyak 14,96 persen.
Kepala Bappeprov Jatim, Budi Setiawan sebagai pembicara dalam acara ini mengatakan, hasil SE 2016 sebagai dasar yang dapat dipercaya yang sangat berguna bagi perencanaan pembangunan di Jatim. Pembangunan tidak akan mencapai keberhasilan jika tidak didukung oleh data yang akurat dari BPS. Data dasar sangat penting untuk mendasari pembangunan. Seperti menentukan berapa jumlah kemiskinan dan penganguuran serta indeks perkembangan wilayah dan lainnya.
Dalam acara tersebut BPS Jatim mendatangkan pembicara Krenayana Yahya dari Enciety Business Consult dan dipandu Edi yuwono Slamet dari FE Unair. (hari)






