BIDIK NEWS | SURABAYA – Ditemui di kantor Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG Universitas Airlangga (Unair), Drg. Gilang R. Sabdho Wening, M.Kes, dosen promosi kesehatan gigi memaparkan, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sudah sangat jelas dalam memberi arah, yakni melalui Permenkes No 89/2015 tentang Upaya Kesehatan Gigi Dan Mulut. Di dalamnya tertulis, bahwa upaya promotif sangat diperlukan dalam menyongsong Indonesia Bebas Karies 2030.
Menyikapi hal tersebut, FKG Unair melalui program pendidikan profesi mahasiswanya melakukan banyak riset dan berhasil menghasilkan produk inovatif yang mendukung pemicuan pada kelompok sasaran tersebut.
“Pada jenjang pendidikan profesi di Departeman IKGM ini, mahasiswa memang dirangsang untuk peka pada permasalahan sosial kesehatan, khususnya gigi dan mulut. Lalu, dikemas dalam konsep penelitian yang berujung pada pemberdayaan masyarakat dan produk inovatif penyertanya,” imbuh Gilang yang juga menjadi salah satu dosen pembimbing para mahasiswa profesi IKGM,” Selasa (12/6).
Salah satu hasil inovasi mahasiswa adalah peluncuran buku pedoman praktis pemicuan bebas karies yang sudah disosialisasikan dan diimplementasikan di wilayah Puskesmas Tenggilis Kota Surabaya pada Maret-April 2018 lalu.
“Konsep dari buku modul panduan ini adalah membangun komunikasi antar orangtua-anak-guru, untuk saling mengawasi dan mencatat perkembangan kesehatan gigi anak,” ungkap Moch Egiarta, ketua pelaksana program.
“Di samping itu, kami bersama staf puskesmas dan guru bekerjasama untuk berlatih bagaimana memeriksa gigi anak secara sederhana, sekaligus bagaimana melaporkannya dalam bentuk catatan di modul ini,” tambah Egiarta.
Pada event yang berlangsung di SDN wilayah Tenggilis, disepakati berdasarkan hasil riset kebutuhan kesehatan gigi, bahwa memang diperlukan sebuah pedoman spesifik dalam upaya pemicuan bebas karies.
“Memang baik sekali inovasi yang diberikan mahasiswa FKG Unair ini. Sebagai salah satu alumnusnya, saya ikut bangga. Karena program pemicuan bebas karies ini memang seharusnya dilaksanakan secara detil dan komprehensif seperti yang tercantum pada buku. Ternyata, bahkan jam sarapan saja, berpengaruh pada munculnya karies gigi,” imbuh drg. Razak Yuri Pratama, dokter gigi Puskesmas Tenggilis.
“Saya berharap kebaikan dari inovasi ini bisa disebarluaskan kemanfaatannya melalui Dinas Kesehatan Kota Surabaya, atau bahkan Kementerian Kesehatan,” pungkas Razak. (hari)







