SURABAYA – Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan, sekitar 8 juta angka kematian disebabkan karena asap rokok. Serta 1,2 juta kasus di antaranya terjadi pada perokok pasif. Saat ini jumlah perokok di Indonesia sekitar 75 juta orang atau 33% dari jumlah penduduk Indonesia, tertinggi ke-3 di dunia (Riskesdas, 2018).
Kerugian ekonomi akibat tembakau mencapai Rp 375 triliun atau seperlima dari total APBN Indonesia (Balibang Kemenkes, 2019). Beberapa penyakit yang disebabkan oleh rokok antara lain jantung, stroke dan yang paling parah penyakit kanker paru yang 60% nya disebabkan rokok.
Karena itu, menyambut Hari Kanker Anak Sedunia 2021, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) mengajak masyarakat lebih peduli terhadap bahaya rokok, khususnya dampak asap rokok terhadap anak-anak.
Melalui dialog interaktif secara daring, Selasa (23/2/2021), FKM Unair menghadirkan narasumber, antara lain Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, SKM., M.Kes TCSC IAKMI Pengda Jatim dan Dra. Arie Soeripan, MM ketua WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau) Jatim serta Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) Jatim.
Santi Martini Ketua TCSC IAKMI yang juga Dekan FKM Unair mengatakan, dialog interaktif ini untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya asap rokok. Terlebih, dampak negative asap rokok terhadap ibu dan anak.
Sedangkan Dr. Siti Rahayu Nadhiroh memaparkan dampak perilaku merokok di dalam rumah bersama anggota keluarga dan dampaknya terhadap Stunting. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, tercatat lebih dari 158 juta terpapar asap rokok di dalam rumah dan 13 juta diantaranya anak berusia 0 – 4 tahun.
“Hal ini menjadi ancaman bagi tumbuh kembang balita, baik selama masa kehamilan maupun selama masa tumbuh kembang anak, memiliki hubungan dengan adanya risiko stunting,” kata Dr. Siti.
Sementara Dra. Arie Soeripan memaparkan bahayanya asap rokok bagi kesehatan dan peran wanita. Dijelaskannya, rokok mengandung zat yang lebih berbahaya ketimbang asap yang dihirup perokok. Ini terjadi karena asap tidak melalui filter, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan bagi yang terpapar. Asap Perokok pasif turut menyerap lebih dari 4000 senyawa kimia. Yang mana 250 jenis dikenal sangat beracun. Parahnya lebih dari 50 jenis memicu kanker.
“Sebanyak 49,8% responden yang merokok mengaku tetap mengeluarkan uang untuk membeli rokok selama masa pandemi Covid-19. Lebih dari 13% responden mengaku meningkat konsumsi rokoknya. Peningkatan itu dipicu pembatasan aktivitas di luar rumah /WFH. Orang tidak banyak memiliki aktivitas sehingga lari ke aktivitas merokok di rumah,” ujarnya.
Karena itu, peran wanita atau ibu sangatlah penting, yaitu dengan tidak memberi dukungan kepada perokok dalam bentuk apapun seperti tidak memberi uang untuk membeli rokok. Tidak memberi kesempatan kepada siapapun untuk merokok di dalam rumah. Tidak menyediakan asbak dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku tidak merokok kepada anggota keluarga.
Ike anggota Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia Cabang Jatim berbagi cerita dampak bahayanya asap rokok yang membuat kanker. Sehingga, tenggorokan harus dilubangi karena jalan napas sudah tidak berfungsi dan akibat asap rokok. Hidupnya hancur, baik secara sosial dan ekonomi, tidak bisa bicara, harus didampingi keluarga untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain, sudah tidak dapat bekerja selayaknya seperti orang pada umumnya.
“Jangan sampai terjadi kepada orang yang anda sayangi apalagi anak anda. Jangan sampai ada lubang-lubang tenggorokan lain karena asap rokok. Stop merokok sekarang juga dan tegakkan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok,” pesan Ike.











