BIDIK NEWS | BANYUWANGI – Ratusan wartawan dari berbagai media di Banyuwangi mengikuti sarasehan peningkatan mutu ormas melalui workshop jurnalisme damai, di aula Hotel Ikhtiar Surya Banyuwangi, Kamis (24/05).
Acara yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Banyuwangi tersebut, digelar dengan mengambil tema penulisan berita Pemilu damai dan pemberitaan terorisme. Dengan menghadirkan dua narasumber yaitu Pemimpin Redaksi Radar Banyuwangi, Syaifudin Mahmud dan Kontributor Metro TV Banyuwangi, Andi Himawan.
Saat membuka acara, Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Wiyono mengatakan peran wartawan sebenarnya fungsi mempengaruhi. Kaitannya dengan keberadaan negara, pers menjadi pilar keempat dalam demokrasi.
Pilar pertama yaitu legislatif, kedua eksekutif, dan ketiga yudikatif. Dalam demokrasi liberal, pers menjadi yang paling penting.
“Ada wartawan yang menelpon puluhan pejabat, yang menjawab sepuluh persen saja sudah baik,” ucap Wiyono.
Menurutnya, undangan sarasehan saat ini untuk 150 wartawan yang ada di Banyuwangi.
Narasumber pertama, Pemred Radar Banyuwangi, Syaifudin Mahmud menyampaikan sebagai wartawan di lapangan bagaimana menulis berita yang membuat pemilu damai.
“Ruh kita sebagai wartawan adalah kode etik jurnalistik,” ujar Aif sapaan akrab Syaifudin Mahmud.
Menulis berita Pemilu diharap tidak menonjolkan unsur kekekerasan, tapi harus menonjolkan kedamaian.
“Hal-hal yang bersifat seperti itu hendaknya bisa kita kurangi, harus hati-hati agar menciptakan suasana damai,” imbuhnya.
Empat kalimat yang ditekankan dalam penulisan berita yaitu, menjunjung tinggi netralitas, hindari isu sara, hindari berita yang berbau hoax, dan mendorong terciptanya demokratisasi media dalam perannya sebagai khittoh perekat pemersatu bangsa.
Sedangkan narasumber kedua, kontributor Metro TV Banyuwangi, Andi Himawan mengatakan khusus untuk media saat ini kalah dengan media sosial atau medsos.
“Saya nilai berita pilkada lokal saat ini minim sekali,” kata Andi.
Untuk berita terorisme, lanjut Andi, juga sudah mulai berkurang. Untuk berita televisi tidak ada berita seharga nyawa.
“Dalam tugas liputan, jangan sampai melupakan nyawa kita, apalagi berita yang mengandung unsur sara,” jelasnya.
Berita teroris harus mengedepankan NKRI harga mati. Sekarang ini ujian jurnalis sangat berat. Karena dituntut netralitas, dan independen.(nng








