BIDIK NEWS | Malang – Korelasi nilai-nilai keislaman dan Bung Karno sebagai penggagas Pancasila yang digali dari jati diri bangsa, dikemas dalam sebuah buku “Bung Karno, Islam dan Pancasila”. Buku setebal 212 tersebut ditulis Achmad Basarah, Wasekjen DPP PDIP. Subtansi buku tersebut diulas pada acara bedah buku yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Malang Raya di Rumah Aspirasi, Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jum’at (2/3).
Basarah mengatakan generasi muda diharapkan tidak amnesia sejarah yang tak tahu menahu siapa tokoh-tokoh pendiri bangsanya serta mutiara -mutiara pemikiran tokoh-tokoh bangsa. Para tokoh-tokoh lintas agama dan lintas suku inilah yang berjuang memperebutkan kemerdekaan Indonesia dengan warisan Pancasila sebagai ideologi negara. Pemikiran Soekarno tentang Islam sangat dipengaruhi oleh H.O.S Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam sekaligus guru Soekarno di masa remaja.
Melalui “Bung Karno, Islam dan Pancasila”, ia mengajak, khususnya generasi muda untuk mencintai bangsa yang tak bisa dilepaskan dari sejarah dan pemimpin-pemimpin bangsa. Maka dengan begitu nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Relevansi Islam dan Pancasila difokuskan secara tegas oleh Basarah. Pancasila sebagai falsafah-ideologi negara merupakan konsensus sosio historis bangsa Indonesia yang majemuk. Dari situ hadir pula sumbangsih pemikiran-pemikiran para ulama-ulama dalam merumuskan Pancasila, selain dari kelompok nasionalis dan tokoh-tokoh agama non Islam.
“Pancasila merupakan titik temu beragam pandangan dan majemuknya agama yang berkembang di Indonesia. Maka tak perlu lagi ada pertentangan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Apalagi mencari dan mengganti ideologi alternatif dari luar,” tegas Basarah.
Agar nilai Pancasila melekat sebagai ethos bangsa, Basarah berpendapat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus disosialisasikan secara tepat melalui kurikulum pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Para pemipin bangsa saat ini perlu memberi sauri tauladan yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Sehingga Pancasila menjadi living ideology. Akan menjadi ideologi yang hidup di tengah-tengah warga negara Indonesia,” ujar Ketua Umun PP PA GMNI tersebut.
Basarah menambahkan indoktrinisasi Pancasila sebagai ideologi negara sangat diperlukan untuk menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi bangsa. Hanya saja indoktrinisasi yang dijalankan di masa Orde Baru untuk melegitimasi kekuasaan sekaligus alat pukul bagi lawan politik. Stigma anti Pancasila diberikan bagi bangsa mereka yang tak sepaham dengan kebijakan-kebijakan Orde Baru.
“Indoktrinisasi itu benar, yang salah penggunaannya sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan. Bagaimana mungkin sebuah ideologi tidak ditanamkan dalam pikiran dan jiwa anak bangsa kalau tidak diajarkan, tidak ditanamkan,” papar Basarah.
Sementara itu Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Wahyu Widodo yang menjadi pemateri dalam bedah buku tersebut, menuturkan ada relasi yang harmonis antara agama dan tradisi budaya di Indonesia. Tradisi budaya Indonesia terangkum dalam Pancasila. Dalam buku tersebut dikupas pula spiritualitas keislaman Soekarno dalam merumuskan Pancasila yang selama ini masih kabur dari pengamatan publik.
“Apalagi kondisi sekarang bagaimana kelompok fundamentalisme agama dan sektereanisme kelompok semakin kuat. Dengan kondisi seperti itu, Pancasila mendapatkan relevansi yang cocok di hari ini,” pungkas Wahyu. (Didid)
Teks : Pemateri bedah buku “Bung Karno, Islam dan Pancasila”, Wahyu Widodo, Dosen FIB Universitas Brawijaya (kiri), memaparkan Pancasila merupakan ideologi terbuka yang sangat fleksibel terhadap dinamika zaman. Hadir pula Prof. Dr. Hariyono. M,pd Deputi Bidang UKP Pembinaan Ideologi Pancasila sebagai pemateri. (foto:ist)











