BATU I BIDIK NEWS – Panggilan hati adalah satu-satunya proses menemukan iman yang tidak bisa dilogikakan. Jika Allah telah mengijinkan hati manusia tergerak maka tak ada satupun yang mampu membendung, seperti proses mualaf yang dialami Desy Ari Susanti. Perempuan kelahiran Malang, 31 Desember 1994 itu memutuskankan masuk Islam.
Tahun 2017 merupakan waktu yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Desy. Bagaimana tidak, sedianya ia pemeluk agama Kristen juga lahir dari keluarga Kristen namun atas perjalanan batinnya, masuk kedalam agama Islam merupakan keputusan besar dalam hidupnya.
“Saya hidup di lingkungan mayoritas muslim, pastinya saya mendengarkan suara adzan setiap hari lima waktu solat dan mendengar orang mengaji. Yang aneh, hati saya merasa tenang, merasa nyaman,” jelas ibu satu orang anak itu.
Tidak hanya itu, setiap kali melihat orang salat, Desy mempunyai rasa ingin melakukannya juga. Rasa penasarannya semakin menjadi ketika keyakinan ibadah yang ia yakini tidak lagi memberi ketentraman batin seperti yang ia rasakan saat mendengar lantunan Al Qur’an, adzan dan melihat orang salat. Perihal itu, ia mulai tertarik mencari tahu tentang Islam.
“Awalnya saya di bantu oleh teman-teman mempelajari dasar-dasar agama Islam. Saya di ajarkannya memahami tentang kaidah Islam hingga hati saya mantap dan minta dibimbing membaca syahadat,” Desy mengisahkan.
Salah satu pengurus Masjid Bridjen Sugiono Kota Batu, Ustadz Abdur Rohiem Ismail membantu ikrar Desy secara umum untuk mengucapkan syahadat disaksikan rekan-rekannya yang senantiasa mendampingi pencarian spiritualnya.
Setelah ikrar keislamannya, ia mulai mencoba terbuka kepada keluarganya. Reaksi tidak terima dan kaget pasti muncul dari pihak keluarga Desy, meski lambat laun keluarga pun menyetujui keputusannya. Terkecuali ayah Desy yang belum bisa menerima kenyataan anaknya pindah agama. Diketahui, ayah Desy memang seorang Kristen taat begitu pula dengan keluarga ayahnya.
Hingga saat ini, keluarga besar dari ayahnya belum bisa menerima masuknya Desy ke agama Islam. Meski demikian, ia tetap membangun hubungan baik serta tidak terlalu mengambil hati atas sikap tidak pro dari keluarga ayahnya.
Setelah keyakinannya semakin mantap terhadap Islam, ia memutuskan untuk mencari pendamping hidup seorang muslim. Kini, Desy kini memiliki satu orang anak dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
“Sudah dua kali ramadan ini saya merasakan nikmatnya puasa bersama suami, semakin damai hati dan hidup saya, ramadan betul-betul bulan penuh barokah,” tandasnya. (Doi)











