MANGGARAI TIMUR (NTT)-Demi bisa membeli ponsel pintar yang digunakan untuk belajar online dari rumah, siswa SMAN 5 Ketang asal Desa Golo Ndele, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Matim rela jalan kaki keliling kampung untuk jual hasil karya anyamanya, Selasa (25/08/2020).
Siswa yang diketahui bernama Theresia Avila Nda (15) saat ditemui awak media, menjelasakan bahwa kerinduannya guna mengetahui dan merasakan belajar online lewat ponsel sudah lama, sejak sekolah dirumahkan akibat pandemi covid-19.
Lantaran tak punya ponsel pintar tersebut akhirnya pelajar yang duduk dibangku kelas satu SMA ini, meluangkan setiap waktu pulang sekolahnya dengan menganyam tikar dan keranjang dari bahan baku alami daerah setempat.
“Kegiatan menganyam tikar dan keranjang saya lakukan sepulang sekolah, hasil anyaman dijual keliling kampung, dengan harga jual tikar dan keranjang terbilang murah, hasil jualan di gunakan untuk bayar uang sekolah, sisanya untuk sisipkan beli Handpone biar bisa tau proses belajar online itu seperti apa, ” jelasnya
Putri pertama dari pasangan Yuliana Indak dan Herman Tara ini, kembali menuturkan memang sekarang proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolahnya sudah tatap muka, namun dirinya tetap kesulitan dalam mengakses dan mengetahui pelajaran-pelajaran ataupun tugas yang berbasis online.
“Kendalanya saya tidak memiliki ponsel, jadi hanya pasrah pada keadaan saja kalau ada tugas ataupun pelajaran yang harus di online. Saya mau beli Handpone uang jualan anyaman juga belum cukup, ” ungkapnya
Sementara sang Ayah Herman Tara, pada awak media mengatakan, untuk kebutuhan sehari-hari dalam kelurganya saja masih susah, apalgi buat beli ponsel untuk putrinya.
“Dia tidak minta belikan Hp, karena dia tau kondisi kelurga, untuk bayar uang sekolahnya saja masih saya cicil, sekarang lagi covid-19 pekerjaan tidak tetap, penghasilan pun tidak menentu. Saya turut bangga karena dia kreatif lewat anyaman, semoga jualan anyamnya laris, biar bisa mewujudkan keamauanya untuk memiliki Hp, ” ucapnya
Menyadari ekonomi keluarga, Theresia kini lebih giat menganyam, ia berharap yang di lakukanya itu bisa menjawab impianya memiliki ponsel pintar untuk belajar online. Semoga pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tetap fokus untuk meperhatikan kondisi belajar anak bangsa sampai di pelosok-pelosok negeri selama masa pandemi covid-19.
“Jika ada program dari pemerintah yang memberikan pulsa internet ataupun hal lain yang bisa membantu proses belajar kami di masa covid-19, saya berharap penyaluranya bisa merata, dan jangan proritaskan di kota saja,” tutupnya











