SURABAYA – BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) diberi amanah untuk mengelola 4 program Dana Jaminan Sosial (DJS), yaitu Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Sesuai amanah undang-undang, transaksi keuangan ke-4 program DJS tersebut dibukukan dalam laporan keuangan terpisah antar dana jaminan sosial maupun dengan laporan keuangan BPJAMSOSTEK.
Laporan Keuangan DJS, Laporan Keuangan BPJAMSOSTEK dan Laporan Pengelolaan Program (LPP) telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Razikun Tarkosunaryo (member of MSI Global Alliance) dengan opini WTM (Wajar Tanpa Modifikasian) untuk Laporan Keuangan JHT, JP, JKK JKM dan BPJAMSOSTEK. Serta sesuai kriteria penyajian (comply with) terhadap peraturan perundangan untuk Laporan Pengelolaan Program.
Direktur Keuangan BPJAMSOSTEK, Evi Afiatin mengatakan, dalam hal cakupan perlindungan kepesertaan, sampai akhir 2019, tercatat 54,97 juta pekerja telah terdaftar sebagai peserta BPJAMSOSTEK dengan 34,17 juta tenaga kerja peserta aktif dan 681,43 ribu pemberi kerja aktif dengan kontribusi iuran yang terkumpul sepanjang 2019 sebesar Rp 73,43 triliun.
“Aset DJS yang dikelola BPJAMSOSTEK meningkat 18% dibanding tahun sebelumnya Rp 428,31 triliun. Jika ditambah dengan aset badan dari BPJAMSOSTEK Rp15,84 triliun, maka sampai penghujung 2019 secara total BPJAMSOSTEK mengelola aset Rp 444,14 triliun,” kata Evi, Kamis (6/8/2020).
Evi memaparkan, dari total aset Rp 431,99 triliun, telah diinvestasikan dengan menghasilkan pendapatan investasi yang direalisasikan Rp 29,15 triliun untuk memberikan imbal hasil kepada peserta JHT 6,08% p.a. atau 1% lebih tinggi dari bunga deposito rata-rata perbankan pemerintah 5,10% p.a. Sebagai tambahan, hasil pengembangan investasi DJS di BPJAMSOSTEK tidak dikenakan pajak. Sedangkan bunga deposito di perbankan dikenakan pajak 20%.
Dari sisi manfaat kepada peserta, selain memberikan imbal hasil investasi di atas rata-rata suku bunga deposito, sepanjang 2019, BPJAMSOSTEK telah membayarkan klaim atau pembayaran jaminan Rp 29,72 triliun kepada 2,47 juta peserta.
Sementara itu, tingkat kepuasan pelanggan BPJAMSOSTEK di 2019 juga mengalami peningkatan berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh pihak independen sebesar 95,5% atau meningkat 2,9% dari 2018 sebesar 92,6%.
Sementara Direktur Utama BPJAMSOSTEK Agus Susanto, walau banyak tantangan dari lingkungan eksternal, seperti kondisi pasar modal yang kurang kondusif, BPJAMSOSTEK dapat menorehkan kinerja positif di 2019.
“Kondisi 2019 memang cukup menantang, baik dari sisi kepesertaan, pelayanan maupun pengelolaan dana. Namun kami terus berupaya maksimal agar tetap dapat menjalankan semua tugas yang diamanatkan. Pencapaian indikator-indikator kesehatan keuangan DJS dan badan BPJAMSOSTEK juga dalam kondisi baik, sesuai yang ditetapkan regulasi, bahkan aset DJS dan badan BPJAMSOSTEK terus tumbuh”, ujar Agus
Agus menambahkan, hasil yang didapatkan BPJAMSOSTEK ini buah kerja keras seluruh insan BPJAMSOSTEK yang didukung semua pihak. Agus berharap, kinerja yang baik ini tetap dapat dipertahankan dan ditingkatkan. “Semua pihak terkait memiliki peran penting dalam membawa BPJAMSOSTEK meraih pencapaian kinerja yang baik ini,” ujar Agus.
Hal-hal positif yang terjadi sepanjang 2019, lanjut Agus, turut mengantar BPJAMSOSTEK mencapai kinerja di atas. Seperti beragam raihan penghargaan dan apresiasi, diantaranya meraih opini WTM, Laporan Tahunan BPJAMSOSTEK juga meraih Gold Rank dari National Center of Sustainability Reporting (NCSR) yang disampaikan pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating 2019.
Serta hasil Survey Penilaian Integritas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan capaian nilai 85,08 yang berada di atas indeks rata-rata Kementerian/Lembaga dan Pemda.
Selain itu, di 2019 ISSA (International Social Security Association) memberikan 2 pengakuan (recognition) kepada BPJAMSOSTEK berupa Certificate of Ecxellence, untuk kategori penerapan ICT (Information and Communication Technology) dan implementasi program Return to Work and Reintegration karena dinilai telah sesuai standar atau guidelines dari ISSA.
Selanjutnya ASSA (Asian Social Security Association) juga memberikan apresiasi atas keberhasilan BPJAMSOSTEK membentuk PERISAI (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia) dengan tema “Reaching the Untouched Workers” sebagai bentuk inovasi BPJAMSOSTEK dalam meningkatkan coverage khususnya pada sektor informal.
BPJAMSOSTEK terus berinovasi dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan peserta Dana Jaminan Sosial, antara lain melalui berbagai inisiatif strategis. Pada 2019, BPJAMSOSTEK meningkatkan kemudahan melalui layanan digital BPJSTKU, aplikasi yang dapat didownload dari gawai para peserta, penambahan jaringan Desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan untuk menjangkau pedesaan, program perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI), PERISAI, dan Vokasi Indonesia Bekerja.
Hingga saat ini, aplikasi BPJSTKU telah digunakan 9,9 juta pengguna. BPJSTKU dapat dimanfaatkan untuk melakukan cek saldo JHT, mengakses kartu digital, pelaporan kasus kecelakaan kerja, hingga mengajukan klaim melalui gawai handphone maupun komputer secara online.
Sementara itu, BPJAMSOSTEK dalam kurun kurang dari 1 tahun mampu melindungi Pekerja Migran Indonesian (PMI) sebanyak 544,5 ribu pekerja yang telah ditempatkan di negara tujuan, maupun yang masih dalam masa pelatihan di Indonesia.
Sejak diluncurkan di 2017, hingga akhir Desember 2019, program PERISAI telah berhasil mengakuisisi sebanyak 555.497 pekerja yang terdaftar melalui 4.953 PERISAI di seluruh Indonesia.
Desa Sadar Jaminan Sosial yang menjadi salah satu cara mendukung peningkatan awareness dan edukasi di masyarakat pedesaan juga diperluas dengan pencanangan 675 desa di 2019. Setiap desa memiliki komitmen mengedukasi masyarakat dan memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan kepada para perangkat desa dan potensi pekerja lainnya di area desa masing-masing.
Sementara itu untuk program Vokasi Indonesia Bekerja, sejak resmi diluncurkan pada Desember 2019, hingga saat ini telah diikuti oleh 2.963 peserta yang tersebar di 54 lembaga pelatihan. Program ini merupakan program pelatihan gratis bagi peserta BPJAMSOSTEK yang mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan mencakup pelatihan upskilling dan reskilling.
“Hal ini mendapat respon positif untuk kemudian dilanjutkan pada kondisi pandemi seperti saat ini. Banyak dari pekerja yang terdampak dan sangat membutuhkan program sejenis,” tutur Agus.
“Kami merupakan badan hukum publik yang mengutamakan pengelolaan dana yang bersih dan akuntabel. Predikat Wajar Tanpa Modifikasian (WTM) dari kantor akuntan yang independen merupakan indikasi bahwa pengelolaan keuangan telah dilakukan sesuai standar akuntansi keuangan yang berlaku,” katanya.
“Kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua pihak, semoga program perlindungan yang kami selenggarakan dapat memberikan manfaat yang optimal bagi seluruh pekerja di Indonesia,” pungkas Agus.
Sementara itu ditempat terpisah, Kepala Kantor Cabang Surabaya Darmo, Guguk Heru Triyoko mengatakan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin meningkatkan pelayanan kepada peserta BPJS Ketenagakerjaan.
“kami terus berupaya tetap melakukan pelayanan terbaik kepada peserta dan sosialisasi program BPJS Ketenagakerjaan dengan memanfaatkan media yang ada. Sebagai laporan, untuk pembayaran klaim tahun 2020 sampai Juli, BPJS Ketenagakerjaan telah menyelesaikan sebanyak 2429 klaim yang terdiri dari 2105 klaim JHT, 10 klaim JKM, 107 klaim JKK, dan 207 klaim JP dengan total pembayaran klaim Rp.135.287.397.160,” ujar Guguk.











