BANYUWANGI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi, mengaku belum mendapatkan dana taktis yang sewaktu-waktu siap digunakan dalam keadaan darurat bencana. Padahal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Ijen, sudah memasuki hari keenam.
Ungkapan tersebut disampaikan Kepala BPBD Kabupaten Banyuwangi, Fajar Suasana, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penangulangan Bencana Daerah, Eka Muharam Suryadi, Jum’at (25/10).
Menurutnya, BPBD menilai kejadian bencana seperti saat ini tidak pernah terjadi. Karena selama ini semua dianggap baik-baik saja. “Selama ini, kami tidak mengira akan datang bencana seperti ini,” kata Eka.
Eka juga mengaku kesulitan dengan mekanisme pengajuan anggaran. Karena terbentur berbagai macam aturan. Tapi karena saat ini statusnya sudah dinaikkan menjadi tanggap darurat bencana, secara otomatis anggaran segera turun.
“Kita sudah dapat kabar pemerintah Propinsi sudah menyetujui dan anggaran akan segera diturunkan,” ujar Eka.
Eka juga mengaku sudah berupaya melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten, namun belum ada titik terang. Hanya saja pemkab mempersilahkan pengunaan fasilitas seperti àir.
“Ya sementara dibantu penggunaan fasilitas air, kalau anggaran konsumsi dan lain-lain tidak ada,” kata Eka.
Saat ini, telah didirikan tenda tagana dan BNPB untuk dijadikan Dapur Umum dan Posko Kesehatan di Rest Area Jambu, Tamansari – Licin.
“Tagana dan BNPB telah turun tangan dengan adanya status tanggap darurat ini. Setiap hari rencananya kami sediakan 650 bungkus nasi untuk konsumsi para petugas gabungan pemadam api dan para relawan lainya,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Surat Keputusan Bupati yang menetapkan status bencana menjadi tanggap darurat ditandatangani Abdullah Azwar Anas, Selasa (22/10) lalu. Surat yang telah beredar di media sosial itu menyebutkan masa berlaku status tujuh hari sejak ditetapkan. Adapun penanganannya dilaksanakan di bawah komando Komandan Kodim 0825 Banyuwangi.(nng)









