Teks foto :
SURABAYA l bidik.news – Musibah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), khususnya di sekitar Bukit Kembang hingga Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, berujung duka mendalam.
Tragedi tersebut menelan korban jiwa dari unsur petugas TNBTS dan relawan lokal yang terjebak kepungan asap pekat serta kobaran api saat berjuang memadamkan titik api.
Sekretaris Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para pejuang kemanusiaan tersebut.
Ia menilai aksi para petugas dan relawan—mulai dari personel TNBTS, masyarakat lokal, hingga karyawan hotel—yang berjibaku menaklukkan api merupakan wujud kepahlawanan dan patriotisme yang patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya.
“Saya turut berbelasungkawa yang mendalam atas meninggalnya para korban yang gugur pada saat melakukan upaya pemadaman Karhutla di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Ini adalah bentuk sikap heroik dan patriotisme luar biasa dari masyarakat dan petugas yang berkolaborasi demi menyelamatkan kawasan Bromo,” ujar Puguh pada Sabtu (18/10/2026).
Seperti diketahui, cuaca kering ekstrem serta hembusan angin kencang membuat kobaran api mendadak membesar dan mengepung posisi sejumlah petugas serta relawan di lapangan.
Sebanyak empat orang dinyatakan gugur dalam tugas kemanusiaan ini, yaitu Sukaris (55) dan Hendra Rony Wigayanata (25) yang merupakan petugas BB TNBTS, serta Sefriel Ardiansyah (19) dan Wisnu Yuda Pratama (25) yang merupakan relawan dari kalangan karyawan hotel sekitar kawasan wisata Bromo.
Selain korban tewas, dua orang relawan lainnya mengalami luka bakar serius dan tengah mendapatkan perawatan intensif.
Menanggapi fenomena Karhutla yang kerap berulang setiap musim kemarau—terlebih dipicu oleh fenomena iklim seperti Godzilla El Niño , Anggota Komisi E DPRD Jatim ini menekankan pentingnya mitigasi bencana yang terstruktur dan terprediksi. Menurutnya, potensi titik api (hotspot) di Jawa Timur sebenarnya sudah bisa dideteksi serta dikelompokkan berdasarkan frekuensi kejadian tahunan.
Oleh karena itu, ia mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur untuk memperkuat kolaborasi dengan BPBD kabupaten/kota di sekitar kawasan TNBTS.
“Karena peristiwa ini berulang, lokasinya sama, dan peristiwanya sangat mungkin bisa diprediksi, maka saya mendorong BPBD Jatim berkolaborasi dengan BPBD kabupaten/kota sekitar TNBTS untuk memiliki skema penanganan tertentu. Ketika memasuki musim kemarau, instrumen, peralatan pemadam, serta tim siaga bencana di spot-spot rawan harus dipastikan tetap siaga secara periodik dan membawa perlengkapan yang memadai,” tegas Puguh Asal Dapil Malang Raya.
Anggota DPRD Jatim ini menambahkan, partisipasi dan semangat gotong royong masyarakat sangat besar. Namun, dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan keterampilan serta pemenuhan sarana dan prasarana mitigasi mutlak diperlukan untuk mengantisipasi potensi kecelakaan kerja saat proses pemadaman.
Sebagai langkah konkret, ia mendesak pemerintah untuk memperbanyak dan mengaktifkan kembali program Desa Tangguh Bencana (Destana) di desa-desa yang beririsan langsung dengan kawasan TNBTS.
“Masyarakat punya semangat patriotisme tinggi untuk membantu. Namun, ketika pemerintah hadir memberikan dukungan berupa perlengkapan instrumen dan keterampilan penanggulangan bencana, potensi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan saat pemadaman bisa diantisipasi. Melalui Destana, masyarakat dibekali pemahaman SOP tata laksana kebencanaan, sehingga ketika ada ancaman api, tindakan tanggap darurat dapat segera dilakukan secara cepat, tepat, dan selamat,” pungkas Wakil Ketua Badan Kehormatan DPRD Jatim. ( Rofik )











