BIDIK NEWS | JAKARTA – Amerika Serikat (AS) dengan kekuatan Central Intelligence Agency atau CIA menyebut dirinya sebagai pelindung dan kebebasan berpendapat warga Amerika. Mereka juga akan melakukan yang terbaik demi kepentingan rakyat dan pemerintah . CIA memiliki sejarah yang panjang tentang perilaku anti demokrasi, bahkan di Amerika Serikat dan negara lain.b iMenurut analisis Asa Winstanley, CIA pernah berperan dalam penggulingan pemerintah, dan seluruh dunia menganggap itu sebagai ancaman bagi kepentingan AS, seperti dilansir dari laman Middle East Monitor, Jumat (2/3). Dicontohkan CIA pernah membantu menggulingkan pemimpin terpilih Iran dan Guatemala pada tahun 1950-an dan mendukung kudeta di sejumlah negara pada tahun 1960-an, termasuk merancang pembunuhan dan menyokong pemerintah anti-komunis di Amerika Latin, Afrika, dan Asia.
Bahkan menurut mantan CIA yang sudah bekerja selama 30 tahun, Steven L. Hall mengatakan sepanjang sejarah, Amerika Serikat jelas sudah ikut campur dalam hal operasi Pemilu.Terkadang apa yang dilakukan AS melebihi dari batas demokrasi . AS selalu ikut campur dalam masalah pemilu di negara lain, yang membuat demokrasi di negara lain semakin melemah.
Menurut pengamat intelijen Loch K Johnson yang memulai karirnya mendalami operasi CIA sejak 1970-an sebagai anggota senat mengatakan, operasi Rusia dalam pemilu 2016 adalah versi siber dari apa yang dilakukan AS selama sekian dekade ,” Kita sudah melakukan ini sejak CIA didirikan pada 1947,” kata Johnson. “Kita menggunakan poster, selebaran, spanduk, apa saja. Kita membuat berita berisi informasi palsu di koran-koran asing. Kita juga memakai cara apa yang disebut orang Inggris Kavaleri Raja George (koper berisi uang tunai).
Jika disimpulkan, perbedaan campur tangan Rusia dan AS dalam masalah pemilu menurut Hall dan Johnson berbeda tujuan. Menurut mereka, Amerika lebih banyak campur tangan untuk mendukung kandidat non-otoriter untuk menantang diktator atau menyokong demokrasi. Sedangkan Rusia lebih banyak campur tangan untuk mengganggu demokrasi dan mendukung penguasa otoriter, ” Ini semacam mengatakan polisi dan penjahat itu sebetulnya sama karena keduanya punya pistol, yang membedakan adalah motivasinya,” ujar Hall.
Menurut akademisi dari Carnegie Mellon, Dov H Levin dari catatannya soal campur tangan Rusia dan Amerika dalam operasi rahasia. Dia menemukan AS sudah campur tangan sebanyak 81 kali dan Rusia 36 kali sejak era 1949 hingga 2000 , ” Saya tidak membenarkan apa yang dilakukan Rusia pada 2016 (terhadap pemilu AS). Metode yang mereka pakai di pemilu ini adalah versi digital dari apa yang AS dan Rusia lakukan selama beberapa dekade terakhir: menyusup ke markas partai, merekrut sekretaris, menaruh informan di sebuah partai, memberikan informasi atau informasi salah kepada koran,” katanya.(Imron/Merdeka)











