BIDIK NEWS | BANYUWANGI – Aksi demo warga menolak keberadaan tambang emas Tumpang Pitu di kantor DPRD Banyuwangi berlangsung ricuh.
Kericuhan terjadi lantaran para peserta demo kesal, karena selama melakukan aksi tidak ada satupun anggota dewan yang mau menemui. Akibatnya, massa menjadi marah dan saling bentrok dengan aparat, mereka mendesak dan nekat memasuki ruang rapat DPRD, karena aparat menghalangi dan hanya meminta perwakilan lima orang peserta demo.
“Ini hal yang memalukan, karena tidak ada satupun anggota DPRD yang menemui kita. Ini adalah rumah kita, mereka (anggota DPRD) yang membayar kita,” cetus Zaenal Arifin koordinator aksi demo saat orasi di halaman kantor DPRD, Selasa (15/01).
Kemudian, peserta demo yang terdiri dari warga sekitar tambang, bersama mahasiswa dan aktifis lingkungan hidup tersebut, bersikeras agar semua peserta demo bisa memasuki ruang rapat DPRD, sehingga mereka memaksa untuk masuk dan sedikit terjadi aksi dorong mendorong antara peserta demo dengan aparat kepolisian dari Polsek Banyuwangi, dan Sat Sabhara Polres Banyuwangi.
Akhirnya, setelah para demonstran tersebut berada di ruang rapat khusus DPRD, mereka ditemui oleh dua anggota Komisi III DPRD Banyuwangi diantaranya, Julisetyo Rahayu dari Fraksi Demokrat, dan Irianto dari Fraksi Partai PDI Perjuangan.
“Kita kesal karena anggota DPRD tidak ada satupun yang ngantor, ini kan aneh bin ajaib, dan kacau, terus apa kerja mereka,” ungkap Ari sebutan khas Zaenal Arifin.
Menurut dia, sebenarnya banyak masalah yang disampaikan kepada anggota DPRD saat di forum tadi, namun intinya, tambang emas Tumpang Pitu harus ditutup, namun ironisnya apa yang dilakukan oleh PT. BSI selama ini DPRD tidak pernah tahu.
Begitu juga dengan apa yang telah dilakukan Pemda, termasuk jajaran instansinya, DPRD juga tidak pernah mengetahuinya.
“Kalau tahu, pasti itu sudah dikenakan sanksi, termasuk dispensasi jalan untuk kendaraan yang keluar masuk tambang emas ternyata telah menghancurkan jalan, dan merusak rumah masyarakat, seharusnya dikenakan sanksi dan ijinnya dicabut,” keluhnya.
Ari mengungkapkan, pihaknya bersama masyarakat akan kembali lagi pada Selasa Kliwon nanti, mungkin dengan massa yang lebih banyak.
Sementara, Julisetyo Rahayu mengatakan, dari yang disampaikan massa peserta demo intinya menolak adanya pertambangan di Tumpang Pitu.
“Kami sebagai wakil rakyat, akan menampung semua aspirasi itu,” kata Yulis, sapaan akrab Julisetyo Rahayu.
Sebetulnya menurut Yulis, keinginan mereka tidak terlalu pada posisi menolak tambang, tetapi adanya kebisingan, jalan rusak, lingkungan rusak, dan lain-lain.
“Itu yang nanti akan kita presentasikan kepada eksekutif khususnya dari Dinas PU. Bagaimana hasilnya, nanti akan kita sampaikan kepada mereka, karena itu aspirasi masyarakat dan kita harus menerima dan melanjutkan itu, apapun masukan dari masyarakat itu adalah bahan dari kami,” jelas Yulis.(nng)











