BANYUWANGI | BIDIK.NEWS – Hiruk pikuk penolakan terhadap Explorasi Gunung Salakan yang akan dilakukan oleh operator tambang emas, hingga saat ini terus mendapatkan penolakan dari warga sekitar.
Hal ini di buktikan dengan belum bisa masuknya tim explorasi ke Gunung Salakan yang berlokasi tepat berada di belakang Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.
Salah seorang Akademisi Banyuwangi, Fajar Isnaeni menyikapi hal ini. Menurutnya, melihat masih menggeliatnya warga menolak explorasi Gunung Salakan, jangan hanya di lihat dari kenapa warga menolak, karena penolakan terhadap tambang ini bukan hal yang baru, tapi sudah berlangsung lama.
Apalagi, setelah Gunung Tumpang Pitu porak poranda diexploitasi habis habisan oleh PT. BSI, tentu warga juga tak ingin Gunung Salakan bernasib sama dengan Gunung Tumpang Pitu.
Fajar menyebut, kesadaran warga melawan hegemoni operator tambang tentu bukan sekedar asal tolak. Untuk sekedar di ketahui, Gunung Salakan merupakan tempat warga Pancer untuk bercocok tanam jika keadaan laut tidak memungkinkan, sehingga tempat ini juga menjadi penanda ketika nelayan berlayar di lautan tahu arah pulang ke Pancer.
“Jangan penolakan warga ini menjadi alasan untuk kemudian terjadi pengerahan aparat untuk membantu operator tambang masuk ke Salakan, harusnya ada komunikasi yang baik dan beradab dengan warga dan jangan pula jika ada CSR turun ke warga juga di anggap sebagai golden tiket untuk explorasi Salakan,” ungkap Fajar.
“Karena, kalaupun ada CSR atau bantuan, itu sudah kewajiban perusahaan dimanapun yang sudah semestinya, karena juga sudah di atur dalam Undang-Undang, ada kewajiban dan tanggung jawab sosial perusahaan kepada warga sekitar,” imbuh Fajar yang juga Pembantu Ketua III STAI DARUL ULUM Banyuwangi ini.(nng)











