GRESIK I BIDIK.NEWS – Bakat itu mesti dimunculkan, dilatih, dan diasah untuk perkembangan, untuk menentukan karakter masing masing pelukis, demikian pendiri Sanggar Daun, Arik Wartono membuka pameran disalah satu mall, Sabtu (14/5) .
” Bakat itu mesti di munculkan, dan terus dilatih untuk di tingkatkan kemampuan sekaligus perkembangan zaman, dan bisa dilihat masing masing anak mempunyai karakter yang ber beda, tugas kami sebagai pembimbing hanya mengarahkan saja, ” terang Arik.
3 orang siswa dari Daun menggelar pameran, masing masing pribadi memunculkan ciri khas dari setiap individu, dan salah satu siswa yang baru ber umur 6 tahun namun hasil karya dan penghargaan sudah tidak bisa dihitung.
Prisa Pamungkas (6) dalam menggeluti seni melukis bukan sekadar corat-coret biasa, karena karya-karyanya merupakan ungkapan jiwanya. Upaya artistik dalam merekam segala apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Semua itu diekspresikan dalam karya-karya lukisan yang bercerita tentang segala yang paling dekat dengan kehidupannya.
Objek-objek ikonik seperti matahari, rumah, hati, kucing dan figur-figur anak perempuan yang merepresentasikan dirinya sendiri serta temannya. Semua itu disampaikan secara lugu sekaligus spontan dalam sapuan kuas (brush stroke) dan aneka eksperimen teknik melukis yang cukup mengejutkan bagi anak seusianya. Termasuk melukis dengan teknik rol dan beberapa teknik yang kreatif. Dan inilah yang membedakan Prisha Pamungkas dengan anak-anak lain sebayanya.
Anas Sangaji (14) siswa Daun yang sudah berjalan beberapa tahun ini salah satu karyanya berjudul ” Thowaf” Adalah lukisan abstrak dengan tulisan Arab indah ( khot) yang ber bunyi ” Labbaika Allahumna Labbaika” dengan lingkaran abstrak seolah tempat batu ” Hajar Aswad”. Ini adalah perjalanan pribadi sebelum bulan Ramadhan kemarin.
Shafi R (15) yang sudah aktif ikut di sanggar Daun sejak usia 3 tahun mengaku baginya ada ke asalkan tersendiri belajar dengan ustadz Arik, ” Biasanya para guru gambar itu hanya bisa memerintah saja, tanpa tahu siswanya harus membuat kaya yang bagaimana, sementara ustadz Arik ini di suruh melihat kenyataan, diminta membuat sketsa, membuat goresan, barulah penguatan pada karakter masing masing individu “, terang Shafi. (ali)











