BIDIK NEWS | JAKARTA – Tabloid Obor Rakyat yang pernah bermasalah dengan hukum . Kini kembali akan terbit kembali dengan liputan utama wawancara eksklusif dengan Habib Rizieq Shihab di Arab Saudi.
Dalam brosur yang tersebar di media sosial dan grup whatsapp disebutkan, Tabloid Obor Rakyat akan diluncurkan kembali pada Jumat (8/3/2019).
Lokasi peluncuran Tabloid Obor Rakyat akan berlangsung di Gedung Joang 45, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat.
Wartakotalive.com menerima brosur undangan atau pamflet berisi pemberitahuan Obor Rakyat Reborn yang akan diluncurkan pada malam hari tersebut . Dalam brosur itu terlihat Habib Rizieq Shihab jadi cover Obor Rakyat .
Beberapa berita dalam edidi perdana ini, wawancara eklusif Obor Rakyat bersama Habib Rizieq di Mekkah dengan judul ” Rezim Zalim Harus Tumbang ” serta berita Investigasi terkait Divestasi Freeport.
Di dalam brosur undangan tersebut tertera nama Trisi sebagai panitia peluncuran.Namun saat dihubungi Wartakotalive.com, Trisi membenarkan bahwa dirinya adalah panitia launching Tabloid Obor Rakyat , “Iya benar, saya panitianya,” ujar Trisi.
Trisi juga membenarkan bahwa Tabloid Obor Rakyat akan diluncurkan kembali pada hari Jumat besok.Tetapi, Trisi tidak mau menjelaskan siapa saja yang akan hadir pada acara tersebut.Trisi juga tidak mau menyebutkan siapa saja yang menjadi pemimpin redaksi maupun anggota redaksi tabloid tersebut.
“Kirim pesan lewat whatsapp saja, nanti saya teruskan ke yang bisa kasih jawaban,” ujar Trisi.
Wartakotalive.com, mengirim pertanyaan melalui aplikasi whatsapp.
“Bisa dijelaskan siapa yang akan hadir pada acara launching Obor Rakyat. Apakah Obor Rakyat ini sudah didaftarkan sebagai media resmi. Siapa awak redaksi/pemrednya,” tanya Wartakotalive.com.
Trsisi hanya memberikan jawaban singkat dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.
“Untuk info lengkap akan ada konferensi pers sebelum launching. Jadi nanti pas konpers ya mas,” ujar Trisi.
Pertanyaan berikutnya dari Wartakotalive.com, seperti apakah Tabloid Obor Rakyat ada hubungannya dengan Pilpres dan kenapa isi tabloid seperti dicetak di undangan cenderung kritis terhadap pemerin
Bahkan, saat ini Setiyardi Budiono tengah sibuk melakukan persiapan untuk merealisasikan rencananya itu.
Di antara persiapan itu adalah mencari peralatan kantor dan mulai melakukan perekrutan wartawan.
“Kami ingin wartawan yang bagus, jadi beritanya juga bagus. Sekarang ini saya memang lagi sibuk untuk cari alat kantor, meja dan juga kantornya. Saya maunya nanti ada di Jakarta dan Solo,” ujar Setiyardi Budiono saat berbincang dengan Tribun, Jumat (11/1/2019).
Mengenai platform yang dipilih, mantan jurnalis di media ternama itu masih belum mau mengungkapkan.
“Kalau online atau cetak, masih dirapatkan dulu. Tunggu saja tanggal mainnya,” ucapnya.
Setiyardi Budiono mengaku sudah banyak permintaan dari masyarakat baik melalui surat elektronik, telepon, dan lainnya, agar dia tetap menerbitkan Obor Rakyat saat Pilpres 2019.
“Ini menjadi salah satu solusi bagi mereka yang menginginkan sebuah pemberitaan di luar dari media mainstream,” katanya.
Setiyardi Budiono menjamin produk media yang akan diterbitkannya untuk kali ini akan independen. Dia memastikan konten informasi yang disajikan nantinya berbeda dengan sebelumnya. Dia mengatakan kali ini akan memberikan pemberitaan yang faktual, sama halnya dengan media lain.
“Kontennya kami jamin independen. Saya kan wartawan juga, tidak mungkin tidak independen,” cetusnya.
Dirinya menegaskan, tidak akan berpihak ke kubu capres-cawapres mana pun pada PIlpres 2019. Ia akan menyajikan berita yang sesuai fakta yang ditemukan di lapangan.
Terlebih, tidak ada sponsor dari pihak mana pun untuk kembali menerbitkan Obor Rakyat. Dengan begitiu, pemberitaan dipastikan akan tetap terjaga independensinya.
“Sebagai media, kami tidak akan ke kanan maupun ke kiri. Kami berada di tengah-tengah,” tegasnya.
Menurutnya, produk tabloid Obor Rakyat saat Pilpres 2014 lalu hingga membuat dipidanakan adalah hal yang biasa.
Sebab, adalah hak narasumber memperkarakan pihak media jika merasa ada produk yang tidak tepat.
Dia menegaskan, dirinya mendekam di penjara bukan berarti dunia jurnalistik yang digelutinya harus selesai.
“Saya sama seperti teman-teman yang lain, jadi petani, saya tidak punya lahan. Apa yang saya bisa ya layaknya seorang wartawan. Membuat berita dan menginformasikan kepada masyarakat,” paparnya.
Dua pimpinan Obor Rakyat, Darmawan Sepriyosa dan Setyardi Budiono, yang terjerat kasus karena pemberitaan di tabloid Obor Rakyat pada Pilpres 2014, divonis 8 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada November 2016.( Sumber : Wartakota.com)











