SURABAYA – Fokus pada tamu dengan disabilitas, Best Western Papilio Hotel ingin memberikan servis optimal dengan cara meningkatkan softskill para karyawannya untuk belajar bahasa isyarat.
Bertepatan Hari Bahasa Isyarat Sedunia yang jatuh pada Jumat (28/9), 30 karyawan hotel yang terdiri karyawan operasional dan back office dibantu Komunitas Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), membuat training di Vandepolli Room.
Mentor Bisindo, Ika Irawan atau Wawan, didampingi Mufti dari The Unspoken Ministry sebagai penerjemah, dengan bahasa isyaratnya menceritakan, mereka lebih senang disebut tuli dibanding Tuna Rungu. Mereka menganggap bahwa hal ini adalah panggilan yang diberikan oleh orang-orang hearing, (orang-orang yang pendengarannya berfungsi baik) dan mereka beranggapan panggilan itu kurang pas dengan mereka.
Tidak hanya belajar bahasa isyarat menggunakan kedua tangan mereka, para karyawan juga diajak mengenal budaya para kaum tuli, seperti cara berkomunikasi mereka yang di masa sekarang ini lebih sering menggunakan video call dibanding menggunakan aplikasi chat atau SMS. Selain Bisindo, mereka juga belajar secara singkat mengenai ASL atau Amerikan Sign Language yang digunakan secara internasional.
Setelah materi selesai diberikan, semua karyawan diharuskan untuk maju dan melakukan roleplay dengan mentor serta harus menginformasikan nama mereka dengan bahasa isyarat. Para karyawan ini diberi kesempatan untuk bertanya apa saja hal-hal yang sering ditanyakan para tamu. Dan mentor akan mempergakan cara menjawab pertanyaan tersebut dengan bahasa isyarat.
Nidya, salah satu waitress hotel yang sehari-hari bertugas melayani pesanan makanan tamu, mengaku mendapatkan manfaat lebih dengan diadakannya training ini. “Saya akhirnya jadi tahu, bagaimana menanyakan pesanan tamu dalam bahasa isyarat. Apakah makanan yang diminta pedas atau tidak, dan yang terpenting adalah memberikan greeting seperti Selamat Pagi, Selamat malam,” ujar Nidya.
Sementara Intan Manullang, Marcomm Manager dari Best Western Papilio Hotel menambahkan, ini satu cara untuk membuat hotel tempatnya bekerja menjadi lebih unggul dibanding hotel bintang 4 lain yang ada di Surabaya.
“Kami ingin memberikan service excellent yang berbeda kepada para tamu kami, dengan cara meningkatkan softskill para karyawan kami dengan memberikan pelatihan bahasa isyarat. Alhamdullilah, Bisindo ini sangat mudah dipelajari, sehingga materinya masih bisa dimampatkan dalam waktu sehari. Para staf pun semakin antusias mengikuti pelatihan setelah Mas Mufti menerjemahkan lagu Akad milik Payung Teduh menjadi bahasa isyarat, kata per kata. Saya harap pelatihan ini bisa dilakukan secara regular, supaya skil teman-teman bisa semakin terlatih,” pungkas Intan. (hari)











