BIDIK NEWS | SURABAYA – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Surabaya Darmo mempunyai momen spesial di Hari Kartini tahun ini. Dimana momen tersebut diapresiasi dengan mendatangi atau jemput bola ke rumah pesertanya untuk pencairan Jaminan Hari Tua (JHT).
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Surabaya Darmo, Poedji Santoso menjelaskan,
jika kondisi peserta berhalangan untuk datang ke kantor karena sakit, pihaknya yang akan mendatangi ke rumahnya. “Namun bukan hanya untuk pencairan JHT saja, untuk klaim program lainnya jika memang berhalangan hadir, akan dipermudah pelayanannya,” katanya, Sabtu (21/4).
“Apalagi pada 2018 ini merupakan tahun pelayanan dan rangkaian peringatan Hari Kartini. Untuk itu berbagai kemudahan diberikan kepada peserta dalam pengurusan klaim maupun yang lainnya. Sehingga pelayanan prima BPJS Ketenagakerjaan bisa dirasakan masyarakat,” ungkap Poedji.
Sementara Kabid Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Surabaya Darmo, Faridah Hanum mengamini pernyataan Poedji Santoso. Dijelaskannya, apabila peserta tersebut tidak bisa mengurus klaim karena sakit. Setelah mendapat pemberitahuan, pihaknya langsung mendatangi rumahnya untuk menyerahkan klaim JHT sebesar Rp 6,7 juta.
“Dengan demikian peserta tak perlu susah-susah datang ke kantor jika sedang sakit, kami yang akan datang untuk memberikan pelayanan,” imbuh Hanum.
Sementara Djoko Kuntjoro mengaku kaget sekaligus senang saat rumahnya di kawasan Jl. Babatan Pilang ini didatangi tim dari BPJS Ketenagakerjaan Surabaya Darmo untuk pencairan JHT. “Saya sangat berterima kasih kepada BPJS Ketenagakerjaan Surabaya Darmo yang mau datang jemput bola ke rumah saya. Ternyata mudah sekali mengurus proses pencairannya, terima kasih BPJS Ketenagakerjaan,” kata Djoko.
Djoko tidak bisa mendatangi kantor BPJS Ketenagakerjaan Surabaya Darmo di Jl. Diponegoro untuk mencairkan JHT’nya dikarenakan kondisi kesehatannya. Hampir 2 tahun, Djoko mengalami komplikasi dan harus rutin menjalani cuci darah 3 kali seminggu. Karena penyakitnya, kedua matanya juga mengalami kebutaan, sehingga praktis Djoko tidak bisa bekerja.
Karena sudah menyerang kedua bola matanya, Joko akhirnya mengajukan pengunduran diri dari kantornya. “Sebelumya meskipun rutin cuci darah, mas Djoko masih tetap bekerja. Tapi setelah menyerang kedua matanya, mas Djoko praktis dirumah saja,” kata Ira, isteri Djoko yang dengan setia dan penuh kesabaran merawat suaminya. (hari)
Teks : (ki-ka) Kabid Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Surabaya Darmo, Faridah Hanum, Djoko Kuntjoro dan Ira. (Foto : Ist)










