TULUNGAGUNG l bidik.news– Pendidikan bukan sekadar deretan angka kelulusan atau megahnya bangunan ruang kelas baru. Dibalik itu semua, ada jiwa-jiwa yang mengabdi dengan tulus di ruang kelas dan ruang administrasi.
Menyadari hal itu, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bergerak nyata membuktikan bahwa memuliakan pendidikan harus dimulai dengan memanusiakan para pelakunya.
Langkah humanis ini diwujudkan melalui program bedah rumah (rehab) yang secara berkeadilan menyasar dua srikandi pendidikan di wilayah Mataraman.
Mereka adalah Iwin Susanti, S.Pd, seorang guru yang mendedikasikan hidupnya di Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, dan Dwi Sulistiowati, seorang tenaga kependidikan (tendik) yang menjadi urat nadi administrasi sekolah di Kabupaten Trenggalek.
Intervensi sosial lintas batas kabupaten ini menjadi bukti sahih bahwa pemerintah hadir secara merata, tanpa membeda-bedakan status antara guru pengajar maupun staf kependidikan.
Keseimbangan Penghargaan: Antara Ruang Kelas dan Administrasi
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa ekosistem sekolah tidak akan berjalan pincang jika salah satu elemennya diabaikan. Oleh karena itu, program rehab rumah tahun ini sengaja dirancang seimbang untuk mengapresiasi guru sekaligus tenaga kependidikan.
“Tugas mulia mencerdaskan bangsa tidak hanya dipikul oleh guru di depan papan tulis, tetapi juga disokong penuh oleh ketulusan tenaga kependidikan di balik meja administrasi. Melalui rehab rumah Iwin di Tulungagung dan Dwi di Trenggalek, Pemprov Jatim ingin memastikan tempat bernaung mereka kembali nyaman. Ini adalah cara kami membayar tunai dedikasi mereka,” ungkap Aries Agung Paewai, Sabtu (16/5/2026)
Dua titik rehab yang berjalan simultan di dua kabupaten ini dikawal ketat oleh Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Tulungagung-Trenggalek. Kepala Cabdindik, Dian Pemilu Sari, turun langsung memantau perkembangan fisik bangunan di Boyolangu maupun di Trenggalek demi memastikan pengerjaan berjalan cepat dan presisi.
Bagi Dian, kebahagiaan yang dirasakan oleh Iwin dan Dwi merupakan suntikan moral yang luar biasa bagi seluruh komunitas pendidikan di daerah.
”Melihat senyum dan rasa syukur dari Ibu Iwin di Tulungagung serta Ibu Dwi di Trenggalek adalah kebahagiaan tak ternilai bagi kami. Ini adalah wujud validasi bahwa tidak ada sekat perhatian. Guru dihormati, tenaga kependidikan dimuliakan. Kami di Cabang Dinas berkomitmen menjadikan program ini sebagai awal untuk terus menyisir dan menjaga kesejahteraan sosial seluruh pejuang pendidikan di wilayah kerja kami,” kata Dian Pemilu Sari optimis.
Lewat program bedah rumah yang menyentuh akar rumput ini, Dindik Jatim bersama Cabdindik Tulungagung-Trenggalek tidak hanya sekadar memperbaiki dinding dan atap yang rapuh, melainkan sedang membangun kembali pondasi semangat baru agar denyut nadi pendidikan di Jawa Timur terus berdetak lebih kuat dan berkarakter.











