SURABAYA l bidik.news – Belakangan ini, publik diramaikan dengan pemberitaan mengenai temuan kasus Hantavirus yang terdeteksi di kapal pesiar yang bersandar di Indonesia. Meski terdengar asing bagi sebagian masyarakat, pakar kesehatan menegaskan bahwa Hantavirus bukanlah jenis virus baru, melainkan ancaman lama yang kembali mencuat karena pola penularannya yang spesifik.
Anggota Komisi E DPRD Jatim bidang kesehatan , Dr . Benjamin Kristianto , MARS , M.Kes menjelaskan bahwa Hantavirus merupakan virus yang berasal dari luar negeri namun memiliki kemiripan media penularan dengan penyakit Leptospirosis yang sudah lama dikenal di Indonesia.
Berbeda dengan COVID-19 yang menular melalui udara (airborne), Hantavirus menular ke manusia melalui perantara hewan pengerat, khususnya tikus. Penularan terjadi melalui kontak dengan kencing, ludah, atau kotoran tikus yang terkontaminasi.
“Virus ini masuk ke tubuh kita melalui makanan atau benda yang terpapar kencing tikus. Seringkali kita tidak sadar bahwa roti atau buah yang kita makan sudah digigit atau dilewati tikus. Ludah dan kencing itulah yang membawa virus masuk ke sistem tubuh manusia,” ujar dr. Benjamin yang juga Ketua Kesehatan Indonesia ( KESIRA ) Jawa Timur .
Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jatim ini mengatakan Hantavirus menjadi perhatian serius karena kemampuannya menyerang dua organ vital manusia secara sekaligus atau terpisah, yang terbagi dalam dua sindrom utama.
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) , Menyerang organ paru-paru (pneumonia). Gejala ini sering membuat masyarakat keliru menganggapnya sebagai COVID-19 karena kesamaan gejala sesak napas. Dan
Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Menyerang ginjal dan saluran kencing.
Kondisi ini disertai dengan demam tinggi dan perdarahan (hemoragik), yang secara klinis mirip dengan gejala demam berdarah namun disertai gangguan fungsi ginjal.
Pria yang akrab di sapa dr.Ben ini menambahkan bahwa penelitian di Indonesia menunjukkan adanya kemiripan tipe virus ini dengan tipe Seoul (seperti yang ditemukan di Korea), yang umumnya ditemukan pada urin tikus.
Langkah Pencegahan
Mengingat belum adanya obat spesifik yang menangani virus ini secara instan. ” Pencegahan melalui pola hidup bersih menjadi kunci utama , ” ucap dr.Ben.
Karena itu masyarakat diimbau untuk :
Pertama
Menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalisir keberadaan tikus di dalam rumah atau tempat usaha.
Kedua .Menutup makanan dengan rapat agar tidak tersentuh oleh hewan pengerat.
Ketiga .Mencuci tangan secara rutin, terutama sebelum makan atau mengolah bahan pangan.
Keempat .Waspada saat banjir, karena mobilitas tikus meningkat dan risiko paparan urin tikus pada air atau benda-benda rumah tangga menjadi lebih tinggi.
” Kuncinya adalah kebersihan. Dengan memutus rantai kontak antara manusia dengan media tikus, kita bisa menghindari risiko penularan Hantavirus yang berbahaya bagi paru dan ginjal ini,” tutup Politisi Senior Gerindra asal Dapil Sidoarjo.( Rofik )












