SURABAYA l bidik.news – Dalam momentum peringatan Hari Kartini tahun 2026 , Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Hari Yulianto, menyoroti pentingnya meneruskan semangat perjuangan R.A. Kartini di era modern.
Tidak hanya sebatas emansipasi di dalam negeri, semangat tersebut juga dinilai relevan dalam menyikapi krisis ekonomi dan geopolitik global saat ini.
Hari Yulianto menegaskan bahwa konteks perjuangan perempuan saat ini telah mengalami kemajuan pesat dibandingkan era Kartini zaman dulu . Saat ini, keterlibatan perempuan dan laki-laki dinilai sama pentingnya dalam proses pembangunan bangsa.
“Pada zaman Ibu Kartini, posisi perempuan sering kali dibelakangkan dan mereka harus berjuang keras untuk bisa seimbang dengan laki-laki.
Namun pada konteks saat ini, sudah tidak ada bedanya perempuan dan laki-laki. Intinya, semuanya harus terlibat dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat yang adil dan makmur,” ujar Hari Yulianto pada Selasa ( 21/4/2026 ).
Menyikapi eskalasi konflik global, khususnya perang di Timur Tengah yang bertepatan dengan momentum Hari Kartini, Hari Yulianto mengingatkan bahwa salah satu tujuan utama bangsa Indonesia adalah ikut serta melaksanakan ketertiban dunia.
Menurutnya, filosofi perjuangan untuk bebas dari penindasan harus terus disuarakan oleh bangsa Indonesia di kancah internasional.
“Perdamaian dunia hanya bisa terlaksana jika bangsa-bangsa itu merdeka. Artinya, tidak mungkin perdamaian dunia itu terjadi jika Palestina tidak merdeka. Dari filosofi perjuangan Kartini ini, bangsa Indonesia harus terlibat aktif dalam menciptakan perdamaian dunia tersebut,” tegas Pria asal Dapil Sidoarjo ini.
Pancasila dan Gotong Royong adalah sebagai Perisai Ekonomi.
Di sektor ekonomi, Hari mengakui bahwa situasi global yang tidak menentu akibat sisa dampak pandemi Covid-19 dan eskalasi peperangan memberikan tekanan pada sektor riil di Indonesia.
Untuk memastikan ekonomi keluarga dan masyarakat tetap bertahan, ia menekankan pentingnya kembali pada jati diri bangsa.
Hari Yulianto menyoroti peran ibu-ibu rumah tangga dan para perempuan (Kartini masa kini) yang terus berjuang menjaga stabilitas ekonomi keluarga di tengah tantangan fiskal. Ia menyebut bahwa kekuatan utama bangsa Indonesia untuk bertahan dari krisis adalah Pancasila.
“Kita mempunyai filosofi bangsa yang luar biasa, yaitu Pancasila. Kalau diperas, ada satu nilai inti yang menjadi budaya kita Gotong Royong.
Gotong royong inilah yang menyokong dan membuat kita kuat, karena kita saling dukung dan saling bantu antar semua elemen bangsa,” jelas politisi PDI Perjuangan tersebut.
Lebih lanjut , Hari Yulianto menegaskan kembali terkait peluang dan peran perempuan di dunia kerja saat ini. Ia menyatakan bahwa sekat-sekat gender dalam profesi sudah tidak relevan.
“Prinsipnya di titik ini sudah tidak ada lagi pembedaan mana pekerjaan untuk laki-laki atau perempuan. Di sinilah salah satu terobosan utama dari perjuangan R.A. Kartini. Meski secara fisik berbeda, intinya semua mempunyai hak, kesempatan, dan kemampuan yang seimbang dan sama,” pungkasnya.
Peringatan Hari Kartini tahun ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial, melainkan menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus bersatu, mandiri secara ekonomi, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.( Rofik )











