BIDIK NEWS | BATU – Kebenaran pemberitaan tentang belum adanya pembekalan pengelolahan wisata warga Desa Beji, dikarenakan bukan inisiasi dari masyarakat dibenarkan oleh PJ Kepala Desa Beji Edwin Yogaspatra.
Kebingunan masyarakat tentang pengelolaan Kampung Hijau setelah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa, menyisakan pekerjaan rumah. Pihak Jatim Park 3 yang dikabarkan sebagai inisiator pembentukan Kampung Hijau “Tempenosaurus” ditengarai terkesan tidak melakukan persiapan matang dan terburu buru. Bahkan, PJ Kepala Desa yang belum ada dua minggu menjabat ini dikagetkan dengan agenda besar mendatangkan Gubernur Jawa Timur.
Menurut keterangan Edwin, belum lama ia menjabat PJ Kepala Desa dirinya didatangi mahasiswa UMM mengatasnamakan kelompok praktikum Prospero, melakukan konfirmasi tentang rencana mereka membangun kampung wisata dengan pemberdayaan masyarakat di lokasi Kampung Hijau, meski sebenarnya untuk konsep wisata sentra tempe Desa Bumiaji sudah memiliki IDE SOTE (isuk dele sore tempe) yang diketahui, sudah hampir matang dalam konsep pembentukan Desa Wisata Tempe di Dusun Karang Jambe yang terdapat ratusan pengusaha tempe dan sudah puluhan tahun eksis, dibanding Kampung Hijau yang hanya memiliki 19 pengusaha tempe.
“Saya berfikir positif saja, masalah ada atau tidaknya kepentingan Jatim Park 3 atau UMM, kalau kita tarik kembali ke belakang memang kurang koordinasi antara UMM, Jatim Park 3 dengan pihak pemerintah Desa. Tapi mereka menjanjikan akan melakukan pendampingan pada masyarakat Beji, itu yang saya tunggu dan saya harap bisa menyeluruh ke seluruh wilayah Beji bukan satu RT saja di Kampung Hijau,” ungkap pria yang sebelumnya menjadi PJ Kepala Desa Pendem itu. Senin, (08-04-2019).
Peresmian kampung wisata tanpa kajian sebelum peresmian ini sedikit disesalkan pihak Pemerintah Desa, beberapa warga menghawatirkan jika pembangunan Kampung Hijau itu hanya dimanfaatkan oleh Jatim Park 3, untuk memoles Kampung Hijau agar memberikan pemandangan yang tidak timpang dengan hotel dan apartemen milik Jatim Park 3, karena diketahui sebelum disulap menjadi Kampung Hijau, area pemukiman tersebut terlihat kumuh dan terkesan negatif view untuk hotel dan apartemen.
“Seandainya assalamualaikumnya (permisinya) mereka ketika saya sudah menjabat disini, sudah pasti saya akan minta seluruh rencana wisata di Beji ini tergarap,” tegas PJ Kepala Desa yang pernah menggagas dan sukses mendirikan kampung Cantik di Desa Pendem dengan dana desa tanpa investor ini.
Keberadaan Kampung Hijau yang telah terlanjur diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur itu, diharapkan Edwin dari pihak UMM selaku sutradara kampung wisata itu benar benar akan melakukan pendampingan terhadap masyarakat yang masih bingung harus melakukan apa setelah peresmian ini. Karenanya, Edwin meyakini jika UMM melanjutkan pendampingan pada masyarakat maka akan sangat membantu
Pemerintah Desa dalam membantu Desa Beji.
Terpisah, aktivis budaya jelajah kampung yang akrab disapa Anwar Doang, menghimbau agar masyarakat lokal tidak hanya dijadikan objek saja, justru mereka subject utama karena mereka pemilik wilayah. Masyarakat juga yang paling faham akar budaya setempat karena mereka yang hidup dan berkembang disana, artinya berdayanya sosial, berdayanya ekonomi dan identitas desa juga harus terangkat.
“Tata kelola itu hal mendasar, yang pertama kelembagaan, bahan baku, dana dan metode. Jadi seharusnya empat hal mendasar itu wajib dipahamkan pada masyarakat sebelum menggagas atau mendirikan kampung wisata,” ujar Anwar. (Doi)










