SURABAYA – Ketua Umum Yayasan Kedaulatan Pangan Nusantara (YKPN) Jatim, Dr Ir Jamhadi, MBA menanggapi imbas penyebaran virus Corona di China pada perekonomian Indonesia. Menurutnya, penyebaran virus Corona itu memberikan dampak yang cukup besar bagi perekonomian di Indonesia.
Jamhadi yang juga menjabat Ketua Perkumpulan Doktor Indonesia Maju ini memaparkan, ada 2 sektor yang akan terkena imbasnya. Pertama adalah sektor perdagangan. China merupakan salah satu negara pengimpor terbesar produk-produk Indonesia yang mencapai angka 28%, sedangkan export hanya 8%, sehingga mengalami defisit.
“Kita mengimpor 28,23% dari China, sedangkan export China hanya 10,5%. Berarti memang selama ini kita dengan China mengalami defisit 18%. Sementara dengan USA 13%, Jepang export 14,2%, kemudian ke ASEAN 18,88%, ke Eropa mengekspor 8,73%, sedangkan import dari USA hanya 6%. Jadi Amerika membuat kita surplus, begitupun dengan Jepang dan ASEAN,” kata Jamhadi, Senin (24/2/2020).
Solusinya, lanjut Jamhadi yang juga mantan Ketua KADIN Surabaya ini, minta agar mulai sekarang masyarakat Indonesia harus lebih mencintai produk-produk dalam negeri. “Karena import dari China defisit. Jadi produk dalam negeri harus diberi kepercayaan. Nanti kalau kita beli, nilai jual nya jadi murah. Secara tidak langsung kita melakukan peningkatan produksi dalam negeri dan industri tentunya,” ungkap Jamhadi.
Jika wabah virus Corona belum juga membaik, katanya, diperkirakan pertumbuhan ekonomi China turun hingga 2%, dan otomatis Indoensia juga kena dampaknya. “Kita bakalan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi kalau China masih belum bisa membaik dan akan turun terkoreksi 2% dan Indonesia akan terkoreksi juga 0,3% – 0,6%.
Yang ke-2 adalah sektor pariwisata. Dijelaskan Jamhadi, jumlah wisatawan dari China adalah ketiga terbesar setelah Malaysia dan Singapura, baik di level Jatim maupun nasional.
“Kalau turis China hendak masuk ke Indonesia ditolak dan dimana-mana ditolak. Berarti pariwisata kita drop hingga 20-25%. Jika dari China menurun, yaa hubungan dengan negara lain ini yang harus lebih ditingkatkan lagi. Karena sektor pariwisata cukup komplek, meliputi jasa akomodasi berupa hotel dan restoran, makanan minuman, kerajinan serta transportasi,” pungkas Jamhadi.










