SURABAYA | BIDIK.NEWS – UPT Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur menggelar Parade Gamelan 2022 dengan tema “Kembang Setaman”. Kegiatan berlangsung 2 hari, Jumat – Sabtu (28-29/10/ 2022) di UPT Taman Budaya jl. Getengkali, Surabaya.
Kepala UPT Taman Budaya Samad Widodo mengatakan, digelarnya parade gamelan untuk menyongsong dan memperingati gamelan sebagai warisan dunia yang akan berlangsung Desember 2022.
“Serta merawat gamelan sebagai instrumen warisan musik yang berselaras dengan kemajuan kebudayaan,” kata Samad Widodo saat jumpa media, Jumat (28/10/2022).
Samad juga melihat jika daya kreativitas dan inovasi karya para seniman musik di Jawa Timur cukup melimpah. Sehingga kesadaran ruang presentasi dan jejaring seni masih sangat penting dibangun dengan sikap militansi dan intensitas.
Ia menilai jika kontinuitas dan intensitas para pelaku seni tradisi perlu dibangun dalam suasana apapun. Termasuk dalam agenda kali ini.
Istilah Kembang Setaman sebagai tema sendiri diartikan sebagai ruang bagi seniman dalam mempresentasikan kreativitas dalam proses mewujudkan karya. Antara lain dengan pendekatan khasanah lokalitas karawitan meliputi kreativitas, inovasi, multi disiplin dan lintas gaya.
Sehingga secara keseluruhan parade ini dapat menyemarakkan kesenian di Jatim. Terutama memberi porsi kepada pelaku seni tradisi (gamelan) untuk lebih tampil di publik dalam membawa karya yang lebih kreatif yang sesuai dengan kemajuan kebudayaan.
Parade Gamelan juga sebagai bentuk ajang dan laboratorium pementasan karya seni sekaligus ruang apresiasi seni musik dan sarana rekam jejak atau dokumentasi dalam wujud komposisi karya.
“Dan kami harap ke depannya bibit – bibit seniman menciptakan karya inovatif melalui gamelan dalam taraf tingkat yang lebih tinggi,” imbuh Samad.
Pemilik Sanggar Damar Art Ahzana Ilhami menambahkan, kelompoknya akan membawakan 2 karya dalam Parade Gamelan berjudul ‘Sang Dayun’ dan ‘Hanguti Ilmu’.
Sang Dayun tampil pada malam ini, Jumat (28/10) dan Hanguti Ilmu besok Sabtu (29/10) pagi.
Ahzana menjelaskan, ide tema Sang Dayun berawal dari seorang tokoh pamomong raja Kerajaan Blambangan pada era 1872. Sang Dayun tak ubahnya seperti Semar Badranaya. Damar Art mengangkat kisah pamomong dalam keseharian mendampingi Raja Minak Jinggo.
“Pamomongnya yang kita angkat, jadi stigma yang ada di masyarakat itu Minak Jinggo kan stigmanya agak jelek. Tapi di belakang itu ada seorang sosok pamomong yang menurut saya begitu kuat kesetiannya kuat untuk menasehati sang raja,” ungkapnya.
Damar Art Banyuwangi mengangkat karawitan Banyuwangi dengan instrumen lain seperti patrol dan Reong Banyuwangi dengan jumlah 13 personil.
“Dari ide gagasan itu kita angkat sebagai karya musik. Ini nanti kita ekspresikan lucunya Sang Dayun ketika momong sang raja,” tambahnya.
Parade Gamelan menampilkan karya musik dari 6 kelompok yang dipentaskan di Gedung Cak Durasim. Sementara pertunjukan karawitan remaja sebanyak 12 kelompok sekolah di Jatim dipentaskan di Pendopo Taman Budaya.
Jadwal penampilan Grup Karawitan Remaja di Pendapa Jayengrana, Jumat (28/10) pukul 15.00 -17.00 WIB adalah
Candi Laras SMPN 1 Kauman Ponorogo, Sanggar Tarara Bangkalan, SMPN 1 Surabaya, SMPN 1 Sidoarjo, SMP PGRI 1 Buduran Sidoarjo, Cakra Bana Indonesia Malang dan SMPN 1 Dawarbladong Mojokerto.
Pada pukul 21.00 -23.30 WIB ada hiburan Kelompok Sido Muncul, kanca ngobrol: Gondrong Gunarto dan wedangan.
Sementara Sabtu (29/10) pukul 15.00 -17.00 WIB para penampil adalah
Damar Art Banyuwangi, SMPN 12 Surabaya, SMPN 45 Surabaya dan SMPN 1 Sedati Sidoarjo.
Pukul 21.00 -23.30 WIB ada hiburan Kelompok Bharada, Kanca Ngobrol, Joko Tril ISI Yogyakarta dan wedangan di lokasi yang sama.
Untuk jadwal penampilan 6 kelompok terpilih di Gedung Cak Durasim, Jumat (28/10) pukul 19.00 -21.00 WIB adalah
Damar Art Banyuwangi, Cakra Baruna Indonesia Malang, Gon Gun n Friends Solo dan 7mm Surabaya.
Pada Sabtu (29/10) pukul 19.00 -21.00 WIB para penampil dari Sanggar Tarara Bangkalan, Etnomusikologi ISI Jogja Yogyakarta









