BIDIK NEWS | SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) memfasilitasi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) atau praktik mengajar di beberapa sekolah negara anggota ASEAN.
2 mahasiswa asal Filipina yang menjadi tamu FKIP Unusa kini sedang ditempatkan untuk mengajar di SD dan SMP Khadijah Surabaya. Sementara 2 mahasiswa Unusa pada waktu bersamaan berada di Filipina, melakukan hal sama, praktik mengajar di sana.
Program SEA Teacher Program (Preservice Student Teacher Exchange in Southeast Asia) berdurasi 3 Minggu ini memfasilitasi mahasiswa program studi keguruan dan ilmu pendidikan mendapatkan pengalaman mengajar di negara-negara anggota ASEAN.
Rektor Unusa, Prof Achmad Jazidie mengatakan, program ini memberi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmunya di negara-negara anggota ASEAN.
“Bagi Unusa, program ini memiliki arti sangat penting dan membuktikan bahwa kurikulum yang diberikan dalam proses pembelajaran bukan hanya untuk kepentingan regional atau lokal, tapi juga internasional,” katanya, Jumat (1/2).
Tahun ini, lanjutnya, Unusa mengirim 2 mahasiswanya untuk program tersebut. Mereka ditempatkan di sekolah di Filipina. Pembiayaan program ini sepenuhnya ditanggung Unusa untuk transportasi. Sedangkan akomodasi selama mahasiswa di sana ditanggung oleh perguruan tinggi setempat.
“Hal sama juga berlaku untuk 2 mahasiswa Filipina yang sekarang ada di sini, mereka hanya membiayai biaya perjalanan, sedang selama di Surabaya, ditanggung oleh Unusa,” katanya.
Swenn Grospe Bautista, mahasiswa asal Filipina ini menjelaskan, program ini merupakan wadah untuk mengembangkan kemampuannya dalam proses belajar mengajar. “Ini merupakan pengalaman berharga bagi saya bisa mengajar di luar Filipina,” katanya.
Swenn juga mengatakan, melalui program SEA Teacher ini, ia bisa mengenal budaya dan agama lain di luar yang ia ketahui di Filipina.
“Kendala bahasa dan budaya tidak menjadi masalah, karena saya didampingi oleh mahasiswa Filipina yang kebetulan menjadi mahasiswa Unusa,” kata Swenn, Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, Central Luzon State Universirty, Filipina.
Sedang rekan Swenn, Precious Anne Mhay G. Giokerto, mahasiswi dari universitas yang sama mengatakan, dirinya awalnya merasa canggung karena tidak mengenakan jilbab, tapi hari berikutnya, setalah ia diterima dengan baik, semua berjalan apa adanya.
“Awalnya saya sangat susah menempatkan diri, karena saya belum pernah menggunakan jilbab sebelumnya, dan banyak budaya yang berbeda dan harus saya pahami. Tapi teman pendamping saya sangat membantu,” katanya usai mengajar kelas SD Khadijah. (hari)











