BIDIK.NEWS |SURABAYA – PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) terus berupaya menekan biaya operasional, salah satunya dengan menerapkan efisiensi. Tujuannya untuk mencapai target laba Rp 5 triliun di 2018 ini dan meningkat hampir dua kali lipat dibanding pencapaian tahun lalu yang tercatat Rp 3 triliun.
Hal ini dijelaskan Direktur Utama PT PJB, Iwan Agung Firstantara usai Forum Diskusi Bisnis bertajuk “Infrastruktur Pendorong Pertumbuhan Ekonomi” yang digagas KAFEGAMA UGM dengan salah satu narasumber’nya adalah penyanyi rock legendaris, yakni Ikang Fauzy di Kantor PJB, Selasa (23/1/2018).
Dikatakan Iwan, laba PJB selama ini didapatkan dari hasil produksi listrik seluruh pembangkit yang dikelola, kemudian dikurangi biaya produksi, dengan total 7 ribu MW lebih pembangkit yang dikelola dengan pendapatan diproyeksikan mencapai Rp 33 triliun.
“Saat ini kami juga berupaya menekan biaya operasional, salah satunya dengan melakukan efisiensi. Dimana tahun lalu, efisiensi di PJB mencapai Rp 1,7 triliun. Dan di tahun ini, nilai efisiensi diharapkan sama, atau sekitar Rp 1,7 triliun,” tegasnya.
Efisiensi tersebut dengan mengganti penggunaan batubara berkalori 5.000 kilo kalori menjadi 4.500 kilo kalori di PLTU yang dikelola PJB. Selain itu, efisiensi juga dilakukan dengan mematikan unit pembangkit yang biaya produksinya mahal, salah satunya PLTU di Gresik yang sudah berumur 35 tahun, karena efisiensinya hanya sekitar 30 persen.
“Rencana mulai tahun ini kami matikan dan kita gantikan dengan pembangkit yang lebih efisien. Kami harap, melalui berbagai upaya tersebut, optimistis target laba bakal terpenuhi,” tuturnya.
PLTU berkapasitas 2 X150 KV tersebut rencananya bakal dimatikan pada tahun ini. Sementara gas yang selama ini mengalir ke PLTU akan dialihkan ke PLTG di Gresik yang akan dimodifikasi dari 500 KV menjadi 150 KV. Melalui berbagai upaya tersebut, ia optimistis target laba bakal terpenuhi.
Sementara untuk proyek 35 ribu MW, ada sekitar 11 ribu MW lebih yang dibebankan kepada PJB. Hingga saat ini, 4.720 MW sudah dalam tahap kontruksi, 2.700 MW dalam tahap perjanjian jual-beli (power purchase agreement/PPA) dan sekitar 1.900 MW dalam perencanaan.
”Semua proyek tersebut ditargetkan bakal mulai beroperasi 2019, 2020 dan 2021 mendatang,” pungkas Iwan. (hari)









