BIDIK NEWS | SURABAYA – Dua layanan online business-to-business (B2B) dan business –to-government (B2G) dari PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI), yakni AXIQoe.com dan PrintQoe.com, terus memperkuat posisinya sebagai platform online yang dipercaya perusahaan dan pemerintah di Surabaya dan Jatim. Kedua layanan online ini menjadi bagian dari komitmen AXI untuk menjawab tuntutan efisiensi dan efektifitas perusahaan dan pemerintah di era digital.
Layanan e-commerce AXIQoe.com, merupakan layanan belanja online yang menyasar pasar B2B dan B2G untuk memenuhi perlengkapan dan kebutuhan kantor seperti Office Supplies,Office Equipments dan Electronics, yang cakupannya kota-kota di Jatim, antara lain Malang, Madiun, Gresik, Sidoarjo, Banyuwangi hingga Madura.
Sedangkan layanan PrintQoe.com hadir Sebagai layanan online printing B2B dan B2G pertama di Indonesia yang melayani kebutuhan print on demand dan variable printing secara real time. Sehingga memudahkan perusahaan dalam memesan berbagai jenis produk cetakan.
Sahat Sihombing, Presdir PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) mengatakan, data dari APJII mencatat, penetrasi e-commerce di Jatim 58,08% di 2017. Surabaya peringkat pertama kota dengan penetrasi e-commerce terbesar di Indonesia, yakni 71%.
Sejak September 2016 lalu, AXIQoe.com resmi menjadi penyedia online shop kebutuhan barang pemerintah melalui E-Katalog LKPP RI. E-Katalog sendiri instrumen baru dalam menciptakan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang terbuka dan efisien. Melalui E-Katalog, pembelian barang dan jasa bisa dilakukan secara cepat dan mudah.
Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), Agus Prabowo menambahkan, mekanisme belanja pemerintah lewat e-purchasing akan meningkat dan sebaliknya, e-tendering akan semakin berkurang.
“Sebelumnya, primadona pengadaan adalah tender. Sekarang kami geser, pengadaan yang baik adalah yang mengadopsi mekanisme pasar sepanjang itu terbuka dan adil melalui government e-marketplace,” kata Agus pekan lalu.
LKPP akan mengekstensifikasi government e-marketplace melalui penguatan kelembagaan, yaitu dengan menggabungkan layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) dan unit layanan pengadaan (ULP) menjadi satu lembaga. “Kedua lembaga akan digabung menjadi satu lembaga yang nama generiknya UKPBJ atau Unit Kerja Pengadaan Barang Jasa Pemerintah. Kedepan LKPP akan mendelegasikan kewenangan e-katalog ke kementerian, lembaga dan daerah melalui UKPBJ,” ucap Agus.
Sedangkan Industri grafika di Indonesia memiliki pertumbuhan cukup pesat hingga 5%. Permintaan cukup kencang juga terjadi di industry cetak digital, yaitu mencapai 12%. Mengakibatkan permintaan cetak offset cenderung stagnan karena peralihan ke industri cetak digital dan online.
Industri printing Jatim mengalami pertumbuhan cukup signifikan, rata-rata 4,56% per tahun atau di atas pertumbuhan rata-rata industri pengolahan lainnya yang hanya tumbuh 4,51%. Sehingga industri printing telah masuk lapangan usaha untuk industri pengolahan yang menyumbang pertumbuhan ekonomi di Jatim pada Q1 2017 lalu sekitar 29,30%, naik 8,60% dari 2016 dan diprediksi akan terus tumbuh.
Sektor MICE memiliki multiplier effect yang sangat besar hingga menjadi potensi bisnis menjanjikan, mulai dari event organizer, jasa transportasi hingga produk percetakan seperti Books, Flyers, Letterhead, Brochure, Business Card, Envelope, Manuals, dan Certificates dll. Melihat potensi bisnis seperti ini, Surabaya mulai mengembangkan visi menuju kota wisata MICE terdepan di Indonesia.
Sahat Sihombing menambahkan, data dari Kementerian Pariwisata, dalam setahun ada 350.000 orang mengikuti berbagai acara MICE di Indonesia dengan transaksi lebih dari Rp 25 triliun. Tahun ini Surabaya salah satu kota yang menjadi fokus pengembangan wisata MICE di Indonesia, sangat besar permintaan produk percetakan seperti flyer, business card, manuals dll.
AXI melalui AXIQoe.com pada 2017 lalu meraih peningkatan kontribusi pendapatan bersih 37% terhadap revenue induk perusahaan Astragraphia secara konsolidasi. (hari)








