MAKASSAR | BIDIK.NEWS – PT PLN (Persero) melalui anak perusahaannya PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) menghadirkan energi bersih di sistem kelistrikan, salah satunya melalui PLTS di wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) kepulauan Indonesia. Dimana PJB bekerjasama dengan PLN UP3 Makassar Selatan yang berada di wilayah Sulawesi Selatan.
PLTS Photovoltaic yang dikelola PLN UP3 Makassar Selatan, khususnya yang terletak di Pulau Kodingareng dan Pulau Tanakeke, Sulawesi Selatan merupakan jenis PLTS ongrid yang dilengkapi penyimpanan energi (energy storage) berupa baterai.
PLTS tersebut sudah beroperasi lebih dari 8 tahun. Karena itu, dibutuhkan assessment untuk mengetahui kinerja dan kondisi peralatan PLTS. Project assessment ini dilakukan oleh tim PJB yang merupakan kolaborasi Divisi Business Solution, Divisi EBT dan Satuan Teknologi.
Direktur Pengembangan dan Niaga PJB, Iwan Purwana menyampaikan, kompetensi PJB di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) sudah tidak diragukan lagi. Kompetensi ini juga sebagai dukungan PJB agar kemandirian energi di daerah-daerah di Indonesia dapat terlaksana.
“PJB akan selalu berupaya mendorong program pemerintah dalam kemandirian energi. Salah satunya melalui sinergi di PLN dalam assesment PLTS milik PLN di daerah 3T”, ungkap Iwan Purwana, Selasa (26/7/2022).
PLTS Kodingareng yang dioperasikan 2013 – 2021 mengalami penurunan produksi, sehingga hanya mampu menghasilkan daya 200 kWp. Upaya revitalisasi yang dilakukan PJB berhasil meningkatkan kapasitas daya PLTS sebesar 260 kWp.
Bila ditahun pertama operasi PLTS mampu menghasilkan energi listrik secara maksimum, namun akibat adanya degradasi performa pada 2020 hanya mampu menghasilkan energi listrik 30.000 kWh/tahun.
Upaya revitalisasi yang PJB lakukan diprediksi mampu mengembalikan produksi green energy hingga 215.000 kWh/tahun. Jika sebelumnya PLTS hanya mensuplai daya ke 3 jalur, pasca revitalisasi sistem PLTS mampu untuk menyuplai daya ke pelanggan secara merata melalui 4 jalur distribusi.
Revitalisasi BESS (Battery Energy Storage System) juga berhasil memperbaiki dari sebelumnya hanya untuk operasi pada siang hari, menjadi mampu beroperasi siang maupun malam hari. Sehingga mampu mengurangi konsumsi BBM PLTD di malam hari.
PLTS Tanakeke yang dioperasikan sejak 2013 mengalami penurunan produksi yang hanya mampu menghasilkan 663 kWh di 2020. Sementara di tahun pertama operasi mampu menghasilkan hingga 190.000 kWh. Upaya revitalisasi yang PJB lakukan melalui penggantian inverter, normalisasi konfigurasi modul PV, perbaikan panel DC dan perbaikan sistem koneksi diprediksi mampu mengembalikan produksi green energy hingga 190.000 kWh/tahun.
Revitalisasi BESS juga berhasil memperbaiki dari sebelumnya dengan keterbatasan jam operasi (12 jam), menjadi mampu beroperasi pagi, siang dan malam hari (24 jam). Sehingga mampu mengurangi konsumsi BBM PLTD di malam hari. Jika sebelumnya masyarakat tidak mendapatkan listrik 24 jam, saat ini pasca BESS beroperasi normal, PLN mampu menghadirkan listrik 24 jam.
GM PT PLN (Persero) UIW Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat, Awaluddin Hafid menyampaikan, kerjasama revitalisasi PLTS Kodingareng dan Tanakeke antara PJB dan PLN mampu mengembalikan kedua performa PLTS menjadi lebih baik.
“Jika kesehatan PLTS Kodingareng dan Tanakeke bisa kita jaga selama 1 tahun operasi kedepan, maka terdapat potensi penghematan BBM 132.000 liter/tahun atau setara 2,2 miliar/tahun.” ujar Awaluddin.
Revitalisasi PLTS Kodingareng dapat mengurangi kapasitas pembebanan salah satu mesin PLTD Kodingareng sebesar 50% dari beban normal (175 kW). Sehingga untuk 12 jam operasi terdapat penghematan BBM sekitar 290 liter/hari.
Sedangkan revitalisasi PLTS Tanakeke mampu mengurangi jam operasional 65 kW dari sebelumnya 12 jam operasi menjadi 8 jam operasi. Sehingga terdapat penghematan BBM 72 liter/hari.
Sinergi PJB dan PLN UP3 Makassar Selatan dalam proyek rivitalisasi PLTS ini diharapkan terus berlanjut untuk jangka panjang guna menjaga kesehatan dan kehandalan PLTS agar selalu mampu beroperasi pada kondisi terbaiknya.
Harapan PLN melalui program Dedieselisasi adalah pengurangan beban operasional BBM agar tidak membebani keuangan perusahaan. Sehingga PLN dapat terus berinvestasi untuk pengembangan pembangkit EBT di masa mendatang, untuk Indonesia yang lebih hijau.












